Beranda Berita Poskestren Adakan Posengetren Pertama di Indonesia

Poskestren Adakan Posengetren Pertama di Indonesia

849
0
posengetren pertama

pptialfalahsalatiga.com – Poskestren adakan posengetren pertama di Indonesia (16/4/17). Posengetren atau Posyandu Remaja Pondok Pesantren merupakan sebuah kegiatan dari Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) bidang Pengabdian Masyarakat Universitas Diponegoro.

Intan Puji Lestari (ketua), Silvia Inge Safitri, Vanessa Juliete Alexia, Raka Alif Putra menjadi pemrakarsa kegiatan ini. Mereka merupakan mahasiswa jurusan Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro.

Konsep kegiatan ini sama dengan posyandu pada umumnya. Hanya saja, lebih terfokus pada penanganan anemia pada remaja, kebutuhan gizi, dan peningkatan kesehatan santri.

Dengan bimbingan langsung dari mahasiswa Undip dan Ibu Lilis dari Puskesmas Kalicacing. Selain itu, juga bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kota Salatiga dan beberapa lembaga kesehatan Kota Salatiga.

Kegiatan ini menghasilkan buku pedoman kesehatan, modul gizi, dan Kartu Menuju Sehat (KMS) Remaja. KMS Remaja berfungsi untuk mencatat dan mengawasi santri dalam mengikuti Posengetren. Sehingga, dapat menjadi alat untuk mengetahui peningkatan kualitas gizi dan kesehatan santri.

Dalam pelaksanaannya terdapat empat meja administrasi, yaitu pendaftaran, pengukuran, pencatatan, dan konsultasi. Pada meja pendaftaran, santri akan menerima KMS Remaja dan mengisi data diri. Berpindah pada meja kedua, yaitu pengukuran tinggi badan dan berat badan. Terkhusus santri putri terdapat pengukuran LILA (Lingkar Lengan Atas) dan juga Bioimpedance Analysis (BIA). BIA berguna untuk mengukur komposisi tubuh seperti, lemak, massa tubuh, kebutuhan kalori, dan umur sel. Meja tiga adalah pencatatan hasil dari meja dua. Meja terakhir adalah meja konselor. Para santri bisa dengan leluasa berkonsultasi masalah gizi dan keluhan-keluhan yang ia rasakan selama satu bulan terakhir.

“Dari organisasi bisa belajar kelola event pondok, belajar tanggung jawab, belajar melaksanakan acara internal pondok, belajar berkomunikasi dengan orang lain dengan konseling dan sebagainya. Mungkin lebih ke manfaat berorganisasi dan merancang acara lebih sistematis,” tutur Kang Abdau Yazid, ketua Poskestren kala itu.

“Harapannya, ngga muluk-muluk cuma supaya mereka lebih peduli dengan kesehatannya. Karena kalau pernah sakit parah nanti akan susah,” tambah Kang Abdau Yazid.

Artikulli tjetërKidung Lelono: Pasukan Tanpa Senjata, Menusuk Sukma Lewat Nada

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini