Beranda Cerpen Di Bawah Langit Pesantren (Cerpen)

Di Bawah Langit Pesantren (Cerpen)

1383
0

Senja kembali hadir. Lembayung jingganya menyapu langit pesantren. Tuhan, Sang Pencipta terbaik kembali melukis kanvas yang luasnya tiada bertepi dengan keagungan-Nya yang sempurna tiada tara.

“Ambil sikap kuda-kuda..!” serunya lantang.

“Andi, benarkan posisi kuda-kudamu. Pertahanan awal harus kuat!” imbuhnya

“Tahan seperti itu sampai 10 menit ke depan!”

“Huh…” keluh seorang santri pelan.

“Hey, kamu Syarif. Kenapa he…? Enggak kuat? Silakan duduk atau jadikan ini latihan terakhirmu!” Ucapnya tegas sambil mengacungkan jari.

“Eh,.. duh,… mboten kang. Kulo kuat insyaallah”, jawabnya  meringis menahan debar jantungnya yang tak karuan. Mencoba memperbaiki posisi kuda-kudanya sebaik mungkin. Bulir-bulir bening menetes dari pelipisnya.

“Kalian semua dengarkan ini, jika ingin menjadi pesilat sejati haruslah tangguh. Tata niat sebaik mungkin. Teguhkan sekuat baja. Baru saja disuruh kuda-kuda 10 menit sudah ngeluh. Apa itu namanya pesilat sejati, ha..?!”

Mboten Kang, kami siap.”

“Pesilat macam apa ini, kurang semangat… Kalian siap..?”

“Siap..!”

“Masih kurang semangat. Kalian siap?”

“Siap…  kami siap..!!!” seru mereka lantang.

Tersungging segaris senyum dalam parasnya. Senyum yang selalu memikat siapapun yang menemukannya.  Teduh memang air mukanya. Seteduh pelangi yang hadir setelah hujan reda. Bening nian kedua bola matanya.Sebening tetes embun di pagi buta. Kadang terlihat lembut meneduhkan, kadang terlihat tajam setajam tatapan elang yang terbang perkasa. Di kala malam menyapa, seakan ada cahaya purnama yang menyapu bayangnya.  Bersinar diantara kerlip bintang.

“Kang Alif,…huh,.. huh,” napasnya terengah-engah.

“Assalamu’alaikum, Kang”, balas Alif, “Ada apa ini?”

“Wa’alaikumsalam,..sampeyan iku lo, tak cari kemana-mana nggak ketemu, eh ternyata ngumpet di sini… huh.. huh.., Itu .. Kang Alif dipadosi Ibu Nyai, huh..” bicara dengan masih terengah-engah.

“Umi? enten nopo Kang?” mata Alif membulat.

Sampeyan suruh nganter Umi ke Semarang,” terangnya lebih tenang.

“Ke Semarang, jemput siapa?”

Mboten ngertos kulo. Sudah, lebih baik sampeyan langsung saja panasi mobil. Umi udah nunggu di depan ndalem. Ini kunci nya”, ucap Harun sambil menyerahkan kunci mobil, kemudian melenggang pergi.

“Eh,.. Kang Harun… tunggu!”, panggil Alif. Sementara yang dipanggil malah terus berjalan.

 “Assalamu’alaikum…”, ucapnya sambil melambaikan tangan

 “Eh,.. Wa’alaikumsalam..,” jawabnya pasrah.

Alif  pun melangkah cepat menuju parkir mobil, yang sebelumnya telah ia tutup latihan silat sore ini.

Mobil Avanza hitam itu berjalan pelan. Berbelok ke kanan setelah melewati gerbang pesantren. Lalu melaju dengan kecepatan sedang. Menapaki aspal jalan raya yang mulus. Rodanya berputar dinamis, tenang. Setenang sang sopir yang mengemudi di balik kemudi.

“Umi, punten niki ajeng tindak pundi, nggeh..?” tanya Alif memecah kesunyian.

Ealah.. kamu belum tahu to, Nang?. Bukane tadi udah dikasih tahu Harun?” Umi Halimah menoleh.

“Hehehe.., dereng, Mi.”

“Mau jemput Hilma kuliah, nanti lewat tol ya Nang, biar cepet. Hari Sabtu pasti jalan raya Semarang macet.”

Owalah.. Nggeh, Umi. Hari Sabtu banyak orang yang menghabiskan waktu bersama keluarga untuk liburan.”

“Iya.. ya, Lif.  Lah ya iku, Sabtu seharuse kan libur. Tapi Hilma malah kuliahnya kok hari Jum’at sampai Sabtu ya Lif?”

“Ning Hilma kan kuliah Pasca Sarjana, Mi. Jadi jadwal kuliahnya cuman Jumat Sabtu. Kalau kuliah sarjana S-1 kayak Alif di Salatiga gini ya dari Senin sampai Jum’at berangkat terus,” terang Alif.

Tak sedikit yang Alif tahu perihal putri Ibu Nyainya itu. Bahkan segala hal tentang diri Ning Hilma, hampir Alif ketahui semua. Bagaimana tidak? Tinggal dan ikut mengaji di Pondok Pesantren asuhan Umi Halimah selama hampir 10 tahun, dirasa sudah lebih dari cukup untuk mengenal lebih dalam keluarga kecil ini.

Oalah, gitu to, nggeh…” Umi tersenyum

“Hmm.., Maaf  Umi.. Umi kok tumben ikut jemput Ning Hilma ke Semarang? biasanya kan Ning Hilma pulang sendiri ke Salatiga pakai motor.”

“Loh, kata kamu Sabtu itu hari untuk liburan. Masak Umi nggak boleh sekali- kali liburan ke luar sama anak Umi sendiri?” canda Umi.

Owalah.. iya deh, Alif lupa. Hhhehe..”

“Alif.. Alif. Mboten, Nang. Umi sengaja mau ajak Hilma ke ndaleme Bu Nyai Aisyah.. Umi sudah lama nggak silaturahim ke sana. Terakhir kali kapan ya, lebaran tahun kemaren kayaknya, Lif. Lama banget ya.”

“Nggeh Mi, mpun ajeng setahun berarti. Bu Nyai Aisyah pengasuh Pondok Pesantren An-Nur niku?”

“Iya, Lif.”

Sejak pertama pemuda berkharisma itu menginjakkan kakinya di tanah pesantren, sejak itu pula Umi Halimah merasakan getaran sayang pada diri Alif. Ya, Muhammad Alif Abdullah memang berbeda dari kebanyakan santri putra yang lain. Seumpama rembulan di tengah kerlip beribu bintang. Selalu lebih bercahaya dan utama.

Apakah karena ketampanannya, Alif istimewa? Bukan. Ataukah karena kepandaian otaknya yang cerdas menangkap pelajaran? Bukan. Karena kecepatannya dalam menghafal? Bukan. Ataukah karena keindahan akhlak dalam diri Alif?

Entah. Semua hal itu memang benar ada dalam diri Alif. Namun, Umi Halimah tak pernah sekalipun bersikap pilih kasih kepada para santrinya. Semua santrinya adalah anaknya, adalah keluarganya. Namun,  Alif tetaplah istimewa. Tak hanya di matanya. Namun juga di mata setiap orang yang mengenalnya. Pemuda tawadhu’ itu terlahir dalam keadaan piatu. Selang beberapa tahun kemudian, Lauh Mahfuz menuliskan takdirnya menjadi yatim di usia 13 tahun.

Umi jadi teringat bagaimana dulu ketika pemuda cerdas itu mendaftarkan diri untuk nyantri di pesantrennya. Saat itu, ketika kebanyakan santri datang sowan kepada Umi dengan ditemani sanak keluarganya, Alif datang menghadapnya sendiri. Memakai baju koko putih bersih dan sarung coklat gelap, lengkap dengan peci hitam bermotif benang emas.  Ia menggendong ransel hitam berisi beberapa potong baju, sarung, dan satu lembar selimut. Hanya itu.

“Assalamu’alaikum.. Umi, asmi kulo Alif. Muhammad Alif Abdullah. Ngapunten, kulo ten mriki ajeng nderek ngaos, luru ilmu kalih Umi saha para asatidz. Nyuwun berkah ilmu, do’a lan pangestunipun, Umi”.

***

Di luar sana. Dari kaca depan mobil terlihat sepasang merpati terbang indah mengepakkan sayapnya. Putih bersih bulu tubuhnya. Si jantan terbang mendarat di depan sang betina. Diarahkan paruh mungilnya yang berisi penuh makanan kepada sang betina . Saling menyuap makanan. Setelah di rasa cukup, kedua pasangan itu mengepakkan sayapnya kembali. Terbang rendah, tinggi merendah. Saling berkejaran dan bermesraan menikmati indahnya alam ciptaan Tuhan.

Umi menoleh menatap Alif. Tersenyum tulus, “Alif, tak terasa ya sudah 10 tahun Abah meninggalkan kita.”

Alif menoleh. Dilihatnya paras keriput yang paling ia cintai dan hormati itu. Tengah menerawang jauh ke depan dengan mata yang berkaca- kaca.Umi pasti rindu sekali dengan Abah. Mengurus pesantren dengan 200 santri tentu bukanlah hal yang mudah. Apalagi bagi seorang perempuan yang usianya semakin senja, seperti Umi.

“Umi harus kuat. Sampai kapanpun Alif akan selalu ada untuk Umi,” janjinya dalam hati.

Alif  pelankan laju mobil. Menepi sebentar, berhenti di tepi jalan. Dimatikan mesin mobilnya.Ditatapnya Umi Halimah dengan penuh perhatian. Paras cantik yang mulai sirna ditelan senja, kini tinggalkan garis-garis keriput di sana-sini. Diusapnya pelan air mata Umi yang membasahi pipi. Diraih kedua telapak tangan orang yang paling dicintainya itu lalu diciumnya tulus.

“Abah tidak pergi kemanapun Umi. Abah selalu ada di sini bersama kita. Mungkin raga Abah terpendam jauh di bawah tanah, tapi ia selalu hadir dan hidup di hati orang- orang yang cinta dan merindukannya,” ucap Alif lembut sambil menyentuh dadanya.

“Iya Lif, hiks.. hiks.. hiks.. Seperti yang dulu Abahmu katakan..  hiks.. hiks.. orang mati itu tidak pergi, hanya sedang berbeda alam dengan kita yang masih hidup…” ucap Umi terbata-bata dengan rintihan air mata.

“Sudahlah Umi, ingat pesan Abah. Kalau kita tengah merindukan seseorang dan tak kuasa untuk bertemu, maka hanya Al Fatihah lah sebaik- baik pengobat rindu”. InsyaAllah Al Fatihah yang kita lantunkan akan Abah dengar dan membuat Abah senang disana.”

Dipeluknya Umi lembut. Tak juga Umi yang selalu merasa rindu. Alif pun begitu. Matanya berkaca- kaca melihat Uminya sedemikian sedihnya.

***

“Adik-adik, sarapannya udah datang…”

“Hore…”

“Ye…”

Pagi itu, suasana ruang makan begitu ramai. Seperti biasa. Anak-anak suci tanpa dosa itu telah siap dengan membawa piring mereka masing-masing. Dengan berpakaian seragam Sekolah Dasar mereka berbaris memanjang menunggu antrean.

“Assalamu’alaikum…”ucapnya berdiri mendekati tempat mengambil makanan”

“Wa’alaikumsalam..” sahutnya. “Eh, Nisa udah mandi belum, nih..?” ucapnya tersenyum.

Ih… Mbak Ulya. Nisa udah pakai seragam rapi gini masih ditanya udah mandi belum? Ya udahlah…” jawabnya cemberut.

Hehe.. iya.. iya.. udah wangi sabun mandi juga kok.”

“Mbak Ul aja kali yang belum mandi.. ya kan? Hii.. bau…” goda Nisa sambil menutup hidungnya.

“Duh.. Duh.. kecil kecil udah pinter banget. Kalau Mbak Ulya mandi, nanti siapa yang bantu Mbok Imah buatin kalian sarapan pagi.. Hmm..?” goda Mbok Imah, tukang masak pesantren yang tiba- tiba muncul sambil membawa sepanci sayur bayam hangat.

“Eh.. ada Mbok Imah. Hehe.. . Nggak kok Mbok, Nisa cuman bercanda. Ya kan Mbak Ul..?” memandang wajah Ulya manis. Merayu.

“Hii… iya iya. Nisa pinter. Udah sini piringnya. Kasihan antrean belakangmu nunggu lama, tuh…” seru Ulya sambil mengambil piring yang dibawa Nisa.

“Iya, Kakak…”

 “Lauknya milih yang mana Nduk?” sambungnya.

“Hmmm… Nisa pengen telur ceplok sama tempe goreng Mbak,” ucapnya sambil menunjuk.

“Sayurnya apa?” tanya Ulya sambil mengisi piring Nisa dengan secentong nasi, telur ceplok, dan tempe goreng.

“Itu, kak.. sayur bayamnya masih anget. Pasti seger…” kedua bola matanya membulat.

“Nih, sarapannya siap dimakan..” menyodorkan sepiring nasi beserta lauk kepada Nisa.

Makasih Mbak Ulya..”

“Oke. Sama-sama.. Jangan lupa baca do’a sebelum makan.”

“InsyaAllah…” balas Nisa sambil melenggang pergi

“Ulya, Ibu Nyai pergi kemana to? Perasaan dari kemaren malem Simbok nggak lihat Umi di ndalem,” ucap Simbok setelah dapur mulai sepi.

Hening tak ada jawaban. Dilihatnya Ulya yang tengah mengaduk-aduk sayur sambil melamun.

Ealah.. Nduk, Nduk.. pantes nggak jawab, diajak ngomong malah bengong. Hmmm…” ucap simbok sambil geleng-geleng.

 “Aww… panas!” pekiknya tertahan.

“Nah kan, jadi kecipratan kuah sayur to. Makanya jangan suka ngalamun gitu. Diajak ngomong Simbok jadi nggak dengerkan?”

“Eh, astaghfirullahal’adzim… Punten, Mbok. Hehe.. simbok tadi nanya apa?”

“Ibu Nyai kemana, nopo lagi gerah, Nduk? Kok sejak kemaren malem simbok nggak lihat ya..”

“Oh, Umi? Alhamdulillah, Umi sehat wal afiat kok, Mbok. Iya, sejak kemaren sore Umi memang pergi, naik mobil dianter Kang Alif. Tapi, Ulya nggak tahu Umi pergi ke mana.”

“Kok kamu tumben nggak ikut?”

“Kan udah ada Kang Alif yang nemenin Umi. Lagian nanti kalau Ulya ikut Umi, siapa yang bakal bantu Simbok di dapur. Kasihan dong, entar capek masak sendiri..” dipeluknya Simbok Imah dari belakang.

“Dasar kamu itu, Nduk.. Ulya.. Ulya…”

“Hehehe..”

***

Malam yang indah bertabur bintang. Langit Salatiga selalu mempesona ketika malam. Siluet Merbabu terlihat berkelap- kelip oleh lampu- lampu rumah yang kokoh berdiri di kaki Gunungnya. Angin pegunungan yang dingin selalu membuat hati yang panas menjadi menghangat. Membuat setiap kelopak bunga sedap malam mengkucup ketika petang, lalu mekar lagi, ketika mentari menyapa pagi.

“Lathifah, lagi sibuk ya..”?

“Hmmm…”, jawabnya masih fokus pada layar laptop. Sibuk mengetik sesuatu.

“Lagi sibuk banget ya… Hmmm.. Yaudah lah…. Aku pergi aja. Nggak mau ganggu” berdiri dari duduk hendak melangkah pergi.

“Ulya,.. Ulya.. eh kok malah pergi sih, duh.”

Dimatikan laptopnya lalu beranjak menyusul sahabatnya.

Lathifah telah keluar dari  “kantor hp”. Sebuah ruangan khusus bagi para santri untuk mengoperasikan alat elektronik. Mulai dari handphone, laptop, notebok dan alat- alat elektronik lain yang tidak diperkenankan oleh pihak pengasuh untuk dibawa ke dalam kamar para santri.

Zaman telah maju dan berkembang. Begitu pula pendidikan dan metode pembelajaran, entah di pendidikan formal maupun pendidikan pesantren. Jika metode pendidikan tak mampu mengikuti arus perkembangan zaman yang semakin maju dengan pesatnya, maka sekolah tak akan lagi diminati, bahkan akan usang ditelan zaman. Ilmu dan pengetahuan adalah aspek utama yang harus terus dipelajari. Karena hanya ilmu dan pengetahuanlah yang membedakan manusia sebagai makhluk yang berakal. Berbeda dengan tumbuhan, binatang dan setan yang Allah ciptakan menjadi makhluk bernafsu tapi tak berakal. Ilmu pengetahuan dan Ilmu- ilmu agama lah yang mampu menuntun manusia menjadi makhluk yang bermatartabat tinggi dan berakhlak mulia.

Di depan pintu, Lathifah tengak- tengok mencari bayangan Ulya.

“Kemana pula perginya si Ulya, duh perasaan baru aja keluar kok udah nggak kelihatan aja batang hidungnya.. Hhhh..” , mengehembuskan nafas kesal.

            Dilangkahkan kakinya menuju dapur pondok yang bersebelahan dengan tempat makan para santri. Tapi, tak ditemukannya Ulya disana. Rencana nya untuk bertanya kepada Mbok Imah ia urungkan, ketika melihat simbok sudah terlelap tidur. Perempuan tua itu memang harus tidur lebih awal Karena esok pagi- pagi sekali ia harus sudah bangun. Jam 2 pagi sudah harus berkutat dengan panci besar, wajan besar, dan berkarung- karung sayur mayur hijau serta penggorengan yang panas.

            Ya, sebagai tukang masak di Pondok Pesantren milik Umi Halimah ini… Simbok lah yang bertugas menyediakan sarapan pagi dan makan sore bagi kurang lebih 200 santri putra- putri di sini. Memastikan bahwa masakan siap dihidangkan dan semua santri bisa makan sesuai jatah mereka. Meskipun tak lagi muda, tapi semangat dan kinerja simbok tidak kalah hebatnya dengan koki- koki yang profesional. Dia tidak sendiri. Terkadang Ulya dan mbak- mbak pondok yang lain kerap membantu Simbok memasak di dapur, meskipun tak diminta.

            Dimasukinya koperasi pondok, kamar Ulya dan kamar- kamar lain yang masih sekomplek dengan kamar Ulya. Bahkan hingga ke seluruh penjuru kamar mandi tak ditemukan pula batang hidung sahabat nya itu.

            Ulya adalah pribadi yang sabar. Jarang sekali dia menumpahkan kekesalan dengan perkataan atau perilaku. Sebagai sahabat karib, Lathifah paham betul dengan tabiat sahabatnya itu. Ketika tengah kesal, Ulya pasti akan berbagi cerita dan curhat dengannya.  Begitu juga dengan yang terjadi saat ini. Ketika Ulya tiba- tiba pergi begitu saja, di saat  dirinya bersikap acuh dan lebih fokus dengan tugas kuliahnya di layar laptop. Tentu tengah terjadi sesuatu pada Ulya. Gadis itu pasti butuh tempat untuk berbagi.

            Hembusan angin malam terasa semakin dingin menusuk tulang. Dirapatkan kembali jilbabnya yang tersibak angin. Tiba- tiba ia teringat kemana harus mencari Ulya.

            Sejurus kemudian, dilangkahkan kakinya berjalan menyusuri kamar- kamar. Lalu menapaki anak tangga demi anak tangga. Hingga sampailah ia di depan ruang- ruang mengaji para santri. Kelas mengaji yang terletak di lantai 3 itu telah sepi lengang. Bahkan lampu- lampu kelas telah dipadamkan sejak 2 jam yang lalu. Sedangkan sekarang, jarum pendek telah menunjukan angka 12 dan jarum panjangnya menunjukan angka 3. Jam dua belas lebih seperempat ternyata. Pantas saja, suasana sudah sepi sekali. Para Santri telah berkelana ke alam mimpi masing- masing. Terkecuali 2 santri putri ini. Dipandanginya Ulya yang tengah berdiri melamun di depan teras kelas, menatap langit malam yang penuh bintang.

            “Ulya, ulya.. akhirnya ketemu juga kamu!. Huh..” bisik Lathifah dalam hati.

Ia hendak melangkah mendekat, tapi diurungkannya ketika terdengar Ulya bersuara

            “Ngapain kamu kesini, sudah selesai tugas kuliahmu, Fah?” Berbicara tanpa menoleh dan masih membelakangi Lathifah.

            “Hmmm.. belum sih, tapi…Mmmm..”

            “Tapi,.. Tapi apa?. Kalo emang belum jadi ya kerjain dulu, ngapain kesini?”

            “Besok kan Minggu, Ul. Aku masih bisa ngerjain tugas kuliahku besok kok. Tenang saja.. Lagian, deadline terakhir pengumpulan tugas kan masih sampai hari Selasa. Hhehe.. aku mau nemenin kamu boleh kan?”

            “Nggak usah. Tidur aja, Fah. Sudah malam… Besok shubuhan mu malah jadi telat, kena takziran baru tahu rasa ntar.!”

            “Eh.. eh, do’a nya kok buruk gitu sih …. Nggak lah. Nggak bakal telat selama ada kamu yang bangunin aku. Ya kan..? Hhhhehe…”, menyenggol pundak Ulya.

            “Hmmm.. Gitu kok bercita- cita jadi Istri Sholihah. Bangunnya kesiangan terus..!”

            “Ya nggak papa dong. Nanti aku akan cari suami yang biasa bangun pagi, bahkan yang hobinya tahajudan kayak kamu. Hhhehe..”

            “Eh, apaan? Malu kali sampe harus dibangunin suami. Istri Sholihah itu seharusnya bangun tidur lebih dulu dari suami, Fah. Secara dia harus nyiapin segala keperluan suami dan anak- anaknya dulu. Seperti cuci baju kotor, nyiapin sarapan, nyetrika baju kerja suami dan seragam sekolah anak. Bersih- bersih rumah juga. Bangun- bangun, suami udah seneng lihat istrinya cantik… dan beres dah segala keperluan rumah!”.

            “Kayaknya sulit ya Ul, jadi istri sholihah..Uhhh..”, keluhnya sambil menopang dagu diatas tangan.

            “Sulit- sulit gampang, kalo kita mau usaha disertai kesungguhan niat!. Pengen nggak masuk Syurga-Nya Allah?”

            “Nggak usah ditanya..ya pasti pengen dong. Surga, tempat yang indah nya tiada tara dan tiada bandingnya. Segala kenikmatan abadi selamanya!”. Siapa sih yang nggak pengen?”

            “Sip. Sip…  Hmmm.. Terus caranya gimana, Fah?”

            “Cara agar bisa masuk Syurga? Ya.. Amar Ma’ruf Nahi Munkar dan berbakti kepada kedua orang tua dong.. Betul kan?”

            “Empat jempol buat kamu. Udah nambah pinter ya..”

            “Hhhhe.. Aku copas kaliamtnya yang diterangin Ustadz Najib, waktu ngaji kitab Washoya  kemaren malem. Aku masih inget betul kok Ul. ”

            “Wih…, tumben seorang Lathifah nyimak penjelasan Ustadz Najib.Hhhihi.. Biasanya kalo ngaji malem, kamu kan merem terus. Bangun- bangun, pas ngaji udah selesai.  Hhhahaha….” canda Ulya.

            “Ih..awas kamu ya..! Nyebelin…!” balasnya cemberut.

            “Hhhe.. maaf maaf..Tapi faktanya gitu kan?. Makanya kalo siang sempetin dong buat Qailullah (tidur siang). Waktunya sekitar satu jam  sebelum dhuhur atau satu jam setelah Dhuhur. Manfaatnya bagus banget, Fah. Selain bisa menambah kecerdasan otak,juga bisa membuat hati rileks dan tenang. Itu salah satu Sunnah Nabi Saw loh.” jelas Ulya

            “Wah,.. jadi pengen. Tapi gimana aku bisa tidur siang. Kuliah aja pulangnya sore terus kok. Kamu kan enak , Ul nggak kuliah, stay di pondok terus. Jadi punya waktu buat bobok siang.”

            Sejak dulu mengenal Ulya, Lathifah dibuat kagum oleh pribadinya. Ulya memang tak pernah mengenyam bangku kuliah seperti Lathifah. Tapi kecerdasan Ulya jauh melebihi dirinya. Bukan karena berotak genius, tapi karena hobinya yang suka membaca, membuat gadis kelahiran “Kota Wali” Demak, itu memiliki pengetahuan seluas samudra.

            Segala jenis bacaan tak hanya kitab yang dibaca Ulya. Tapi mulai dari novel, cerpen, artikel, karya ilmiah, koran dan semua buku koleksi di perpustakaan pondok telah dibacanya. Bahkan buku- buku kuliah milik Lathifah pun habis dilahapnya. Sedangkan bagi Lathifah sendiri, boro- boro membaca buku kuliahnya sendiri, terkadang membawanya ke kampus pun sering lupa bahkan tertinggal. Dasar Lathifah. Begitulah. Jika Ulya hobi membaca, maka Lathifah jagonya melukis. Lukisan kaligrafi berlafadzkan Allah yang dipajang di dinding aula pesantren adalah salah satu bukti kehebatannya dalam hal melukis.

            Pondok pesantren Darun Najjah asuhan Ibu Nyai Hj Halimah ini, memiliki santri dari berbagai jenjang pendidikan. Mulai dari yang masih duduk di bangku sekolah dasar, SLTP, SLTA bahkan hingga jenjang perguran tinggi pun banyak. Pondok Pesantren Darun Najah masih satu yayasan dengan MA Al Huda Salatiga, yang terletak satu lahan dan satu gerbang dengan Pesantren. Umi Latifah menerima santri dari berbagai kalangan dan latar belakang meski berbeda- beda. Tak pernah sekalipun menolak santri bagimanapun kondisi pesantren.

            “Jangan pernah menolak santri, Mi. Bagimanapun latar belakang mereka dan bagaimanpun kondisi pesantren kita. Mereka datang dengan niat yang mulia untuk mencari Ilmu agama. Abah berharap, para santri ini kelak akan mampu  menjadi ustadz dan kiyai- kiyai hebat. Setamat para santri belajar di Pesantren ini, mereka akan mampu mendirikan Pesantren- Pesantren lagi yang syukur- syukur  jauh lebih besar dari Pesantren kita. Bahkan memiliki ribuan santri.” ucap Abah kepada Umi Halimah suatu waktu

            Begitulah cerita Ulya kepada dirinya mengenai almarhum Abah Yai. Lathifah memang tak seberuntung Ulya yang bisa bertemu dan menatap wajah Abah 3 tahun lamanya. Ketika Lathifah masuk di Pesantren ini, Abah sudah berpulang kehadirat Allah. Jadi, hanya dengan mendengar kisah- kisah kenangan dari Ulya saja, Lathifah mampu mengenal pribadi mulia Abah Yai nya itu.

            “Dikalangan para santri, Abah memang terkenal tegas. Apalagi masalah kebersihan Fah. Abah paling disiplin memantau kebersihan pondok kita ini. Sehingga kamu tahu?. Saat aku masih duduk dibangku kelas 2 Madrasah Aliyah, Pondok Pesantren Darun Najah ini sempat mendapat predikat sebagai Pondok Pesantren Paling Bersih se-kota Salatiga!. Hebat kan?” kenang Ulya tersenyum bangga.

            “Wuisshh… keren juga ya pondok kita ini. Bangga deh!”

            “Harus bangga dong. Itu semua berkat keteladanan Abah dan Umi kepada para santrinya.  Kamu tahu, siapa yang mengecat dinding- dinding pesantren kita ini?” tanya Ulya

            “Hmmm.. ya tukang bangunan dong Ul” jawab  Lathifah asal.

            “Bener, tapi salah!” sanggah Ulya

            “Ha..? Maksudnya?” tanya Lathifah tak mengerti.

            “Iya, bener… tukang bangunan yang mengecat dinding- dinding Pesantren kita. Tapi, asal kamu tahu Fah, 90% bangunan di Pesantren Darun Najah ini, Abah lah yang membangun dan mengecat dengan tangannya sendiri !”

            “Masya Allah!… Abah, Ul?” ucapnya tak percaya.

            “Iya, Lathifah.. Abah dan Umi adalah teladan terbaik para santri. Beliau tak hanya menyuruh lewat perkataan, namun langsung memberikan contoh lewat teladan. Umi, meskipun seorang Ibu Nyai,  tak pernah sekalipun merasa sungkan untuk membantu Mbok Imah memasak makanan di dapur.  Abah dan Umi adalah orang yang paling ringan tangan. Kata Abah, bukan derajat dunia yang membuat manusia mulia. Tapi iman dan takwa di hati, yang Allah nilai.”

            Ulya dan Lathifah adalah teman akrab sejak 3,5 tahun yang lalu. Sejak Lathifah diterima kuliah di salah satu Perguruan Tinggi Islam di Salatiga, dengan sebutan “Kota Toleransi” ini. Rumahnya yang terletak di Semarang,  tentu jauh dari tempatnya kuliah. Sehingga mengharuskan dirinya mencari tempat untuk menetap. Sebelumnya ia memang memilih untuk tinggal di kost saja. Tapi Ibu dan ayahnya melarang keras dengan alasan pergaulan anak muda di zaman milenial ini semakin bebas dan tak terkontrol lagi.

            Lathifah terlahir dari keluarga yang tak begitu paham agama. Namun, kedua orang tuanya begitu memperhatikan lingkungan bergaul anak semata wayangnya itu. Tentu tak ada orang tua manapun yang menginginkan anaknya hidup menderita dan sengsara.

            “Pilih tinggal di Pondok Pesantren atau naik bis setiap hari dari Semarang ke Salatiga, Lathifah!. Hanya dua pilihan itu dari papah. Titik!.” ucap Ayah Lathifah

            “Yah, papah kok tega gitu sih ke Ifah. Masak Ifah disuruh ngebis setiap hari dari Semarang ke Salatiga, sih Mah.. Capek lah… Mending kalo boleh naik motor. Lah ini ngebis, mana harus desak- desakan sama pedagang ikan, pedagang sayur yang pagi- pagi banget berangkat ke pasar. Hhhuhu.. Ifah  Nggak mau Mah.. Nggak mau..” Lathifah menangis tersedu dihadapan wanita yang dipanggilnya mamah.

            “Sayang, Papah melakukan semua itu ke kamu tidak lain karena rasa sayangnya yang  begitu besar.”

            “Ha..Sayang? Tapi rela putrinya menderita!. Ifah sudah besar Mah. Bukan lagi gadis 9 tahun yang baru kemaren lulus SD.  Umurku sudah hampir 18 tahun dan akan masuk bangku perkuliahan. Jika papah melakukan ini semua karena khawatir. Sungguh kolot. Ifah sudah bisa jaga diri sendiri kok.!” Bangkit dari duduk kemudian melangkah cepat menuju kamar.

            “Brakkk..!” ditutup pintu kamarnya keras- keras.

            “Astaghfirullahal adzim, Lathifah..”  sang Ibu mengelus dada.

            “Seandainya kamu tahu nak, apa alasan Papah melarangmu tinggal di kos dan tidak membolehkanmu naik motor ke kampus..” batin sang Ibu sendu.

            Kebijakan itu dilakukan kedua orang tuanya, karena mereka memiliki alasan yang tepat. Jauh di Salatiga sana, tentu kedua orang tuanya tak akan mampu memantau sang putri lebih dari sekedar bersapa dan menyakan kabar lewat telepon. Mamah dan papahnya takut jika sang Putri hidup di lingkungan yang salah.. Seperti kisah tragis yang dialami Lasmi, tetangga mereka. Gadis cantik  itu memiliki masa lalu yang begitu kelam. Masa mudanya di isi dengan foya- foya dan menghabiskan uang .Lasmi kuliah di Yogyakarta sana yang jauh dari rumahnya di Semarang. Ia tak lagi merasa berdosa ketika harus berbohong kepada kedua orang tuanya di rumah. Minta dikirimi uang dengan alasan untuk membayar biaya kuliah, padahal uang itu dipergunakannya untuk jalan- jalan bersama teman- temannya. Bersenang- senang hingga larut malam.  Akhirnya, bangku kuliah pun hanya mampu dijalaninya hingga 3 semester saja. Semester selanjutnya ia terpaksa harus di drop out dari kampus. Gadis cantik itu terkena masalah.

            Kedua orang tua Lasmi hanyalah buruh tani yang berpenghasilan tak banyak. Membanting tulang demi pendidikan sang anak. Sebab mereka, ingin  putrinya mampu mengenyam pendidikan hingga setinggi mungkin. Agar tak bernasib sama seperti kedua orang tuanya yang hanya lulusan SD dan SMP itu. Namun, kenyataannya nasi telah menjadi bubur. Lasmi telah benar- benar melukai hati kedua orang tuanya. Menghancurkan harapan dan impian yang telah tinggi- tinggi dibangun.  Mencoreng nama baik keluarga. Menciptakan perihnya luka tiada tara dan tiada lagi obatnya. Lasmi hamil diluar nikah karena pergaulan bebas. Anak Lasmi terlahir tanpa ayah. Sang pacar tak mau bertanggung jawab atas janin yang dikandung Lasmi.

            Lebaran kemarin, Lasmi pulang ke kampung halamannya dengan menggendong seorang bayi. Ayah Lasmi marah besar. Diusirnya sang anak dari rumah. Tak diakui lagi dirinya sebagai seorang anak. Sang Ibu menangis tersedu- sedu tapi tak mampu berbuat apapun, bahkan hanya untuk mencegah Lasmi pergi. Hati sang Ibu telah tercabik- cabik. Lasmi akhirnya  terpaksa pergi karena terusir dari rumahnya sendiri. Berjalan menggendong bayinya, terseok- seok tanpa tujuan yang jelas.

            Hingga suatu hari, 2 bulan kemudian setelah peristiwa  diusirnya Lasmi. Tersiar kabar pilu hingga terdengar oleh kedua orang tua Lasmi. Gadis cantik itu menjadi gila. Kemudian, sang buah hati hasil hubungan gelapnya itu dibuang ke sungai besar yang akhirnya meninggal. Tragis memang. Setelah kejadian itu, Lasmi menghilang entah kemana.

            “Begitulah perempuan, Fah. Bisa menjadi seburuk- buruknya- buruknya Fitnah dunia atau bisa menjadi sebaik- baik perhiasan dunia.”, komentar Ulya suatu hari, ketika dirinya menceritakan alasan sang ayah menempatkan Lathifah di Pondok Pesantren Darun Najah ini.

            Kini Lathifah mulai merasakan dampak positif dari kebijakan kedua orang tuanya yang memaksa memondokan dirinya. Dia jadi paham agama. Hatinya tak lagi merasa hampa akan ketenangan dan haus akan kedamaian. Sebab disinilah, di penjara suci ini ditemukan kebahagiaan yang hakiki.

            “Hanya dengan mengingat Allah, hatimu akan tenang..”, ucap Kiyai Ma’sum, kakak kandung Umi Halimah  saat mengaji kitab Nurudholam bersama para santri di aula pesantren.

            “Hidup di zaman milenial ini, kalian harus memiliki pegangan yang kuat. Agar tidak mudah goyah. Sebab zaman terus maju dan berkembang. Tantangan yang dihadapi manusia zaman ini tentu berbeda dengan tantangan manusia di zaman nenek kakek kita dulu. Apalagi tantangan di zaman para Nabi dahulu”, lanjut beliau.

            “Jika pada zaman Nabi Muhammad Saw. sebaik- baik jihad adalah berperang menegakkan kalimat Tauhid. Maka di zaman kita sekarang, sebaik- baik jihad adalah berperang melawan hawa nafsu. Dan hawa nafsu itu bisa berasal dari godaan setan, juga bisa berasal dari diri kita sendiri. Ibaratnya di dalam tubuh kita ada 2 jiwa. Yaitu jiwa setan dan jiwa malaikat. Ketika diri kita ini diajak rajin beramal sholih, mendekatkan diri kepada Allah, kerap ikut pengajian, ta’lim, mendengarkan nasihat alim ulama’, maka hati kita akan bersih dan bercahaya. Ibarat berjalan di tempat yang gelap, maka cahaya itu akan menerangi jalan kita. Sehingga akhirnya kita sampai kepada tujuan hidup yang hakiki. Menang menggapai ridho-Nya di dunia dan menang memasuki surga-Nya Allah di akhirat.

            “Sedangkan jiwa setan mengandung artian, hati yang jauh dari rahmat dan kasih sayang Allah. Ibaratnya ketika diri ini kita ajak untuk bermaksiat. Seperti berbohong, ingkar janji, menggoshob barang milik temannya, suka menunda- nunda waktu sholat, tidak patuh pada perintah orang tua dan para ustadz, misalnya. Maka setiap dari perbuatan dosa itu akan menciptakan  satu titik hitam di hati seorang hamba. Ketika si hamba terus menerus bermaksiat dan berbuat dosa kepada Allah, maka titik hitam yang tercipta akan semakin banyak hingga akhirnya menutupi hati. Sehingga hati pun gelap dan terhalang dari cahaya Illahi.”

            “Inilah yang disebut hati yang berpenyakit. Jika lama kelamaan dibiarkan terus maka hati akan mati. Ketika hati seorang hamba mati, maka nasehat- nasehat kebaikan bagaimanapun bentuknya tak akan berpengaruh apapun. Dan ketahuilah kalian para Santriku.. bahwa hati yang berpenyakit, jauh lebih berbahaya daripada tubuh yang sakit..!” terang Kiyai Ma’sum panjang lebar.

            “Oooh.. menakutkan sekali. Terus bagaimana cara menyembuhkan hati yang sakit, pak Yai?” tanya salah seorang santri.

            “Memperbanyak istighfar dan bertaubat kepada Allah. Sering- seringlah berkumpul dengan orang- orang sholih agar kita terpacu untuk beramal sholih dan terhindar dari perbuatan maksiat.” jelas Kiyai Ma’sum

            “Eh, Lathifah. Pulang yuk!. Udah kelewat malem nih. Keasyikan cerita jadi nggak kerasa udah jam 12 lebih.” Ucap Ulya sambil melirik jam tangannya.

            “Cerita belum kelar juga udah ngajak pulang. Nggak asyik ah!”

            “Ha? C erita apa? Cerita sebelum tidur?Hhha..” pura- pura tidak tahu

            “Ulya..! , suka bikin gemesh orang deh!… Dari tadi kamu itu ceramahin aku mulu. Kamu belum cerita ke aku, Kenapa tadi dateng- dateng ke kantor hp sambil menekuk muka gitu? Kayak lagi galau aja… “

            “Emang lagi galau..” jawabnya datar

            “Galau karena apa nih, habis patah hati ya… Hhhhaha..”

            “Hussst…. Lathifah . Bisa nggak ketawanya dikerasin dikit lagi. Biar seluruh santri di pondok ini bangun semua. Ini udah larut malam Fah.. !” kesal Ulya

            “Eh,… maaf… malah bagus dong. Bangun tidur langsung bisa sekalian tahajudan berjamaah. Hhihi” Lathifah meringis menunjukkan deretan giginya yang putih bersih.

            “Ngaco kamu ah,!.. Nanti kalau pengurus keamanan denger suaramu, bisa- bisa kita bakal di..” kalimat Ulya terpotong ketika tiba- tiba ada seseorang yang memanggil mereka dari bawah.

             “Hai … kalian! Sedang apa disana?!” ucap seorang santri putra “Ayo lekas turun….!” tambahnya lagi sambil menuding ke arah Lathifah dan Ulya yang masih mematung di depan kelas mengaji.

“Haduh.. tuh kan kubilang juga apa.. Kamu sih ketawa nya tadi keras banget. Ketahuan kan..” ucap Ulya

            Telah menjadi peraturan tertulis di Pondok Pesantren Darun Najah bahwa pukul 11 malam para santri harus sudah memasuki kamar masing- masing dan wajib tidur. Kecuali bagi mereka yang masih belajar atau sedang menghafal, maka  diperbolehkan untuk tetap bangun, asalkan tidak membuat kegaduhan yang menganggu. Setiap pukul 11 malam ke atas, para pengurus keamanan pondok bertugas untuk bergilir memantau keamanan pondok. Berjaga- jaga agar tidak terjadi hal- hal yang tidak diinginkan.

            “Ya maaf deh, aku tadi keceplosan Ul. Haduh terus…gimana nih,?” bisik Lathifah sambil mendekap lengan tangan ulya erat- erat.”Aku takut kena ta’zir lagi….”

            “Kalian yang turun, atau saya yang akan naik!” ucap si pemilik suara semakin lantang.

            “Eh.. eh.. nggak usah kang. Oke kami yang turun!” jawab Ulya tak kalah lantang

            Kedua santri itu pun turun ke lantai bawah. Menuju halaman komplek santri putri. Menemui seseorang yang memanggil mereka tadi.

            “Ulya.. gimana nih, aku takut…. Pasti tadi yang manggil kita pengurus keamanan pondok. Bisa di sidang …. mati kita.!”

            “Husst. . ngomong apaan sih kamu. Disidang juga biarin dong. Orang kita juga di lantai 3 nggak berbuat yang aneh- aneh kok. Iya kali dikira mau terjun bebas dari atas ke bawah… Hhhehe..”

            “Ih.. kamu,.. sempet- sempetnya bercanda. Aku bener- bener  deg- degan nih!”

            “Tenang dong, selama masih ada Allah semua pasti beresss.. Bismillah aja. Oke?” Ulya mengerlingkan mata kiri nya.

Dalam cahaya lampu yang sedikit redup, dari kejauhan Ulya mampu mengenali siapa sosok yang memanggilnya tadi.

            “Kang Alif..”, panggilnya ragu.

            “Ealah.. Ulya, Lathifah ..kalian ternyata!. Astaghfirullahal adzim, ngapain larut malam begini berdiri di lantai 3 ?” ucapnya heran

            “Alhamdulillah ya Allah.. ternyata Kang Alif.. Huh, lega deh…” kata Lathifah seketika

Ulya dan Alif pun saling bersitatap kebingungan melihat tingkah Lathifah.

            “Hhhehe.. nggak papa kok… santai” tersenyum aneh memamerkan deretan gigi gingsulnya.

            “Kamu belum jawab pertanyaanku tadi Ulya. Ngapain larut malam begini berdiri di lantai 3?” diulangi lagi kalimatnya

            Ulya bungkam. Antara terkejut dan bingung harus menjawab apa. Bertemu dengan sosok yang akhir- akhir ini membuat jantungnya berdetak hebat. Jika boleh jujur, sebenarnya alasan Ulya ke lantai 3 adalah untuk menenangkan diri. Hatinya tengah kalut. Ketika tadi sore baru saja didengarnya kabar yang tak mengenakan hati.

            “Kang Alif pergi nderek e Umi  tindak ten Semarang, mbak” kata Harun

            “ Ke Semarang?”

            “Nggeh. Mau jemput Ning Hilma di kampusnya Semarang sana. Terus katanya, Umi sekalian mau ngajak jalan- jalan Kang Alif dan Ning Hilma ” terang Harun kepada Ulya

            Kabar kedekatan antara Kang Alif dan Ning Hilma memang sudah tersiar cepat di kalangan para santri. Bukan lagi sekedar gosip murahan.  Ning Hilma adalah putri semata wayang Umi yang selain cantik juga berotak cerdas. Diusianya yang masih terbilang muda, ia telah menamatkan gelar S-1 nya dengan jalur akselerasi (percepatan) dan tahun ini Ning Hilma tengah merampungkan tesis S- 2 nya di jurusan Sastra Arab, UIN Walisongo Semarang.Tentu bukanlah saingan yang tepat bagi Ulya yang hanya seorang santri biasa dan tak pernah mengenyam bangku kuliah.

            Sementara Alif adalah santri biasa, namun begitu dekat dengan keluarga besar Hilma. Sudah hampir  10 tahun Alif belajar dan mengabdi menjadi kang ndalem bagi keluarga Abah Yainya ini. Mengurusi segala keperluan Abah, Umi juga tak terkecuali Hilma sendiri. Abah pula yang membiayai Alif untuk ikut les setir mobil. Sehingga kini, sepeninggal Abah, Alif  mampu mengantarkan kemana pun Umi Halimah dan Ning Hilma pergi.  Sekarang dirinya tengah duduk di semester 8. Masih dalam proses merampungkan skripsi S-1 nya di jurusan Pendidikan Bahasa Arab, IAIN Salatiga

            Usia Alif terpaut 2 tahun dibawah Hilma. Mereka berdua memang terlihat cocok. Jika melihat kedudukan, Alif yang hanya santri yatim piatu tentu terlihat tak sepadan jika harus bersanding dengan Hilma, seorang Nawaning. Namun,bukankah cinta tak pernah memandang rupa dan derajat. Umi halimah menyayangi Alif sebagaimana Umi juga menyayangi Hilma. Lalu, apalagi yang perlu diragukan?

            Hati Ulya terluka. Apa dayanya yang hanya mampu mencintai dalam diam?.

            “Ulya….?” panggil Alif

            “Hmmm… itu kang,… Tadi kita lagi lihat bintang di atas.” Jawab Ulya

            “Ha? Malem- malem begini ke lantai 3 cuman untuk melihat bintang? Emang nggak bisa ya lihatnya dari bawah sini. Toh tetep kelihatan bintang nya ….. tuh” ucap Alif mendongakan kepala keatas langit.

            “Indah kalau bisa lebih dekat lagi.. Hmmm..Sedekat kamu dan Ning Hilma…” kalimat terakhir diucapkannya dengan pelan sehingga tak terdengar oleh Alif.

            Dua tahun yang lalu terjadi peristiwa yang menggegerkan seantro Pesantren. Tepatnya malam Jumat. Ketika para santri telah tertidur di kamar masing- masing. Di tengah malam yang se          pi, tiba- tiba terdengar dentuman kertas seperti benda yang jatuh dari ketinggian. Yang kemudian diiringi suara jeritan perempuan yang melengking.

            Seluruh santri yang penasaran berlarian keluar. Memastikan apa yang tengah terjadi di larut malam seperti ini.  Setelah dipastikan, ternyata bunyi dentuman tadi berasal dari suara seorang santri putri yang terpeleset dari lantai 3 dan jatuh terjerembab hingga ke lantai 1. Tidak berdarah memang. Namun, tangan kirinya mengalami patah tulang yang cukup serius.

            “Udah.. udah..  ini sudah larut malam. Jam 1 lebih. Sekarang kalian kembali ke kamar tanpa alasan apapun!”

Alif hanya khawatir jika tragedi yang telah lalu terulang kembali.

***

            Enam bulan telah berlalu..

Salatiga, 20 September 2019

            Menulis adalah membaca. Membaca adalah menulis. Tentang apapun itu. Kehidupan, kerinduan, kekecewaan, keajaiban, penantian ataupun tentang masa yang panjang. Setiap yang ada adalah tulisan. Setiap yang tercipta adalah bacaan. Pandai- pandailah membaca alam. Apapun itu, yang alam berikan.. Ketika engkau menulis, berarti engkau telah membaca. Saat engkau membaca, maka suatu saat jemarimu akan menulis. Bagiku, menulis dan membaca adalah Cinta. Seperti itulah cinta… Membaca dan memahami apa yang disembunyikan hati. Sehingga suatu saat nanti kau akan mengerti, bagaimana cara mencintai.

Ditulisnya satu titik terakhir sebagai penutup. Sebelum buku diarynya ia simpan kembali.

Dear Diary,..

Dibawah Langit Pesantren

Kubiarkan penaku terus menari, menceritakan kisahku lagi..

Maafkan aku…

Maafkan aku yang lancang mengagumimu dalam diamku

Aku malu berkaca pada bayang diriku, yang hitam pekat

Sedang engkau, adalah bayang putih suci

Aku sadar diri..

Cukup bagiku mengagumi,

Tanpa harus aku berani mencintai..

Aku mengagumimu karena llmu mu dan kecintaanmu pada Pencipta mu…

Aku mengagumimu karena sikap sederhana mu dan wibawa mu…

Aku mengagumimu karena kebaikan hati mu dan keluhuran akhlaq mu…

Aku mengagumimu karena kesabaranmu dan ketenanganmu dalam bersikap

Dan yang terpenting, yang perlu kau tahu,..

Aku terlanjur mengagumi mu karena jamaah sholat 5 waktu mu yang tepat waktu…

***

            Seekor kupu terbang tinggi, merendah mengepakan sayapnya yang indah di tengah taman pesantren. Tumbuh disana beraneka jenis bunga mawar. Sang kupu menari dengan senangnya bersama tiupan angin yang sepoi di siang hari.

            “Kenapa secepat itu sih, Ul..?”

            “Nggak Fah.. sudah cukup lama aku di sini, 7 tahun … dan sudah lama juga aku meninggalkan ibu ku sendirian di rumah.”

            “Katamu dulu, tidak ada kata cukup untuk mencari ilmu. Samudra ilmu Allah itu kan luas. Sudahkah kau teguk semuanya?”

            “Benar Fah. Samudra Ilmu Allah itu luas. Luas sekali. Ibaratnya, bila kau celupkan jari tanganmu ke dalam samudra, maka kau lihat air yang menetes dari ujung jari mu? Setetes air itulah ilmu Allah yang dibagi- bagikan untuk seluruh umat manusia.”

            “Wow hanya setetes itu? Ck.. ck.. ck.. sungguh tak patut jika masih ada manusia yang merasa sombong dengan kepandaiannya. Padahal di sisi Allah semua itu tak ada apa- apanya”

            “Iya Fah, semua yang kita peroleh adalah anugerah Allah semata. Laa Haula wa La Quwata Illa Billahil ‘aliyyil ‘adzim…” Ulya tersenyum

            “Tapi, jangan pulang sekarang dong Ul. Paling tidak tunggu aku wisuda dulu, bentar lagi kok. Bulan depan aku Munaqosah. Ya.. ya.. ya.. Please..?” dikatupkan kedua tagan Lathifah ke depan dada, memohon.

            Semilir angin taman, sempurna meniup ujung kerudung Ulya. Matanya terpejam merasakan kesejukan di bawah pohon hijau yang rindang. Menerawang  hingga ke sela- sela ranting dan dahan.

            “Aku harus pulang sekarang, Fah. Ibu sudah menyuruhku….  meskipun sebenarnya aku masih ingin tetap di sini. Mengaji bersama kalian.. Tapi, aku tak boleh terus- terusan bersikap egois.  Sudah saatnya aku berbakti kepada ibu di rumah”

Digenggamnya jemari Lathifah erat, “Tenang saja, saat kamu wisuda aku pasti datang kok. InsyaAllah” tambah Ulya meyakinkan

            “Ya sudah kalau itu sudah menjadi keputusan terbaikmu, aku dukung. Yang pasti nanti aku akan sangat merindukanmu, Ulya…. Hhhh… Jangan pernah lupakan aku..” Dipeluknya Ulya erat.

***

            “Iya Umi, sore nanti Mas Riyan akan kesini jemput Ulya.” Ucapnya dengan menunduk

             “Kenapa harus terburu- buru seperti ini sih, Nduk?. Sudah kamu pikirkan matang- matang?” ucap Umi Halimah sendu. Sungguh tak rela rasanya jika harus melepaskan Ulya pulang ke rumah, setelah 7 tahun lamanya gadis itu mengabdi kepada pesantrennya ini.

            “InsyaAllah Umi, Ulya yakin.”

            Setetes air bening jatuh membasahi pipinya. Seberapun keras usaha Ulya menutupi awan kelabu hatinya, tetaplah hujan akan tumpah juga. Diserahkannya sepucuk surat yang tadi digenggamnya kepada Umi. Surat yang ditulis sendiri oleh Riyan, kakak laki- laki Ulya atas permintaan Sang Ibu.

            “Niki Umi, surat dari Ibu yang Ulya terima seminggu yang lalu.”

Umi Halimah membuka lipatan kertas dalam amplop. Kemudian dibacanya perlahan,

Assalamualaikum wr. wb,

Ulyatul Hikmah, putri Ibu yang sholihah…

            Bersama dengan datangnya surat ini, Ibu berharap engkau segera pulang, Nak. Maafkan Ibu jika mengabarkan ini dengan tiba- tiba. Dan Maafkan Ibu jika keinginan ini menjadi pemutus kebahagiaanmu disana. Tapi, sungguh. Ibu kira, kini adalah saat yang tepat bagimu memberikan ilmu yang kau pelajari di pesantren untuk anak- anak di desa kita. Kemarin malam, Pak Husen, Kepala desa kita datang menemui Ibu. Mengabarkan kepada Ibu tentang kondisi terkini Madrasah Diniyah di kampung kita. Beliau mengatakan, bahwa sebentar lagi Madrasah itu terpaksa harus digusur.

            Sudah seminggu ini tak ada satupun Ustadz yang datang untuk mengajar. Para Ustadz tidak mau  lagi mengajar karena mereka sudah merasa bosan mengajar tanpa gaji. Seperti yang kau tahu nak, hidup di zaman modern seperti ini tentu uang dan materi adalah segala nya. Tak ada yang bisa mencegah  pilihan mereka. Sebab, mereka juga punya keluarga di rumah yang harus di nafkahi. Madrasah menjadi terbengkalai. Anak- anak tetap datang, namun tak ada satupun sosok yang mengajar. Ibu sedih mendengarnya. Pak Husen, mengatakan bahwa seminggu lagi tanah wakaf madrasah itu akan dialihkan menjadi lahan pemakaman umum jika tak mampu beroperasi lagi.

            Kau tahu Nak, bahwa Madrasah Diniyah ini adalah satu- satu nya madrasah di desa kita. Dengan hiilangnya Madrasah, maka kemana lagi anak- anak akan mempelajari agama dan mampu mengenal Tuhannya?. Zaman semakin maju dengan pesatnya. Tanpa benteng ilmu agama yang kuat, maka hancurlah peradaban manusia yang hidup di dalamnya. Ulya anakku, pulanglah sayang. Sang pemilik tanah wakaf madrasah memberikan kita kesempatan waktu hingga seminggu untuk mencari Ustadz pengajar disini. Jika seminggu tak juga ada yang datang untuk mengajar, maka terpaksa Madrasah Diniyah ini akan digusur.

Pulanglah Nak, anak- anak menunggu kehadiran Ustadzah mereka.

Wassalamu’alaikum wr. wb

Salam Cinta,

Ibu mu

            Dilipatnya kembali surat itu. Tak henti- hentinya Umi menitikan air mata. Antara sedih dan haru. Di zaman yang sudah hampir semua orang merasa acuh dengan pendidikan agama ini, ternyata masih ada sosok yang peduli dan gigih memperjuangkan moral agama generasi penerus bangsa.

            “Iya , Nduk.. Umi merestuimu. Pulanglah. Perjuangkan masa depan Islam dengan menghidupkan kembali Madrasah di desa mu. Mendidiklah dengan hati bukan karena mengharap materi, Ulya”.

            “Matursuwun, Umi… InsyAllah semampu Ulya akan berjuang. Mengajarkan kembali ilmu yang Ulya dapatkan di pesantren ini kepada mereka yang membutuhkan.”

            “Nduk.. Jadilah Santri Milenial yang gigih memperjuangkan moral di zaman  Milenial ini. Ridho ku senantiasa menyertaimu sayang..” Umi tersenyum, memeluk Ulya erat.

“Terima kasih Umi,…. Doakan Ulya, semoga Istiqomah” jawabnya berlinang air mata.

***

Dear Diary,

Untukmu sang penguasa hatiku, kini..

Aku adalah Mawar Merah Berduri, maka jadilah engkau Mawar Putih di hati…

Aku tercipta  menjadi seorang yang hanya mampu menoreh luka, maka hadirlah engkau menjadi penawar dari setiap luka..

Tubuhku berduri merah semerah darah, maka engkau jadilah Mawar putih yang menetralkan rasa perih…

Aku hadir dengan beribu kekurangan, lalu kau hadir dengan berjuta kelebihan yang menenangkan..

Aku tumbuh dengan bermacam keburukan, maka kau berkembang dengan beraneka keindahan…

Merahku membakar, maka kuharap putihmu lah yang selalu memadamkan dan mendamaikan.

            Ditariknya koper berisi penuh baju dan barang- barang itu menuju gerbang Pesantren.

            “Mbak Ulya,setelah pulang nanti jangan pernah lupakan kami ya….!” teriak santri santri kecil di depan komplek putri.

Ulya membalikan badan, “Siappp…! Mbak pulang dulu ya.. Wassalamua’alaikum..”

            “Waalaikumslam.. Hati- hati Mbak Ulya..!” ucap para santri itu serempak. Yang kemudian hanya dibalas lambain tangan oleh Ulya.

            Sesampainya didepan gerbang, Ulya memeluk Lathifah erat- erat. Mengucapkan salam perpisahan. Tapi bukan sebagai pertemuan terakhir. Sebab, setiap yang pergi tentu pasti akan kembali. Entah dengan cara bagaimana dan kapan waktu nya. Kedua gadis berkerudung itu yakin bahwa suatu saat nanti Alah akan menakdirkan mereka bertemu kembali.

            Mas Riyan datang tepat ketika mobil Umi Halimah hendak memasuki pesantren. Dari balik kaca mobil terlihat Alif dan Ning Hilma duduk bersebelahan di kursi depan. Semakin terasa panas hati Ulya melihat pemandangan sekilas itu. Dilangkahkan kakinya segera menemui sang kakak. Mas Riyan datang dengan membawa mobil pikc up yang disewa nya sehari untuk membawa barang- barang Ulya yang banyak.

            “Ayo mas kita pulang sekarang..” ucap Ulya

            “Ulya, mau kemana kamu?. Kok bawa barang- barang banyak banget?” Kaca samping mobil terbuka. Terlihat wajah Alif yang muncul dari baliknya. Mobil avanza itu berhenti di depan gerbang, tak jadi memasuki pesantren.

Ulya terdiam tak menjawab.

Hingga kemudian turunlah Ning Hilma dari mobil, “Ulya mau kemana, kok bawa koper segala?”

            “Hmmm… Mau pulang Ning. Maaf belum sempet sowan Ning Hilma. Sejak tadi siang Ning Hilma pergi” jawab Ulya

            “Pulang ke rumah?, terus dengan barang- barang ini?.. Kamu mau boyong?” tanya Hilma kaget

            “Nggih , Ning. Ibu mengirim surat. Menyuruh Ulya segera pulang. Ada Madrasah di desa kami yang akan di gusur karena tak ada tenaga pengajar disana.”

            “Astaghfirullahal adzim,.. terus kamu pulang, untuk mengajar disana?”

            “Iya, Ning. Ulya pamit ya.. Assalamualaikum..” dikecupnya kedua tangan Hilma lembut.

            “Tapi, Ulya…” ucapan Hilma terhenti, ketika tiba- tiba Alif turun dari mobil dan memegang erat tangan kanan Ulya. Mencegahnya pergi.

            “Aku akan ikut kemanapun engkau pergi!” ucap Alif lantang.

            “Astaghfirullahal adzim,.. Kang Alif lepaskan. Bukan Muhrim!” tangan nya mengibas kuat- kuat.

            “Oke, aku akan menjadikanmu muhrim ku.  Menikahlah denganku..” ucapan Alif yang begitu tiba- tiba itu membuat Ulya tak menyangka. Jantungnya berdegup sangat kencang. Ia hanya terpaku di tempat.

            “Lengkapi separuh agama ku., Ulya…” sambung Alif lembut

            Dijongkokan badannya dihadapan Ulya. Tangan kanan Alif menyodorkan sebuah kotak kecil berwarna merah yang terbuka tutupnya. Tersimpan  cincin emas indah di dalamnya.  Ulya menangis. Sungguh kalimat itulah yang sejak dulu ingin di dengarnya dari bibir Alif. Batinnya berkecamuk. Bukankah Alif membeli cincin untuk menikahi Ning Hilma?. Ya, seperti yang dikatakan Umi Halimah tadi siang . Dipandanginya Ning Hilma dengan tatapan penuh tanda tanya.

            “Bukan Ulya. Bukan untuk ku. Kang Alif memang mengajaku ke toko emas untuk membeli cincin dan memasangkannya ke jariku, karena menurutnya postur tubuh kita mirip. Tentu ukuran jari kita tak akan jauh beda.  Cincin itu memang benar untukmu. Terimalah…” jelas Ning Hilma

            “Aku benar- benar mencintaimu  sejak dulu Ulya, karena Allah. Jadilah makmum sholat di belakangku. Lalu, aminkan setiap akhir Al Fatihahku..”

Yang ditanya malah semakin menangis tersedu. Antara haru dan tak percaya.

            “Oh Tuhan nyatakah semua ini? Jika semua yang terjadi adalah mimpi, maka bangunkan aku segera… Aku tak siap merasakan pedihnya kecewa.” batin Ulya memohon

            Lathifah yang sedari tadi diam tak percaya, kini ikut menangis melihat adegan di depannya. Ia tahu bagaimana kuatnya Ulya memendam cinta nya kepada Alif dalam diam. Sebab Ulya tak ingin sekalipun membuat Allah cemburu dengan meletakan cinta selain Cinta-Nya. Ulya hanya ingin mencintai seorang laki- laki sekali dan selamanya. Kepada suaminya, ia akan labuhkan cinta.

            “Ketika seorang muslimah jatuh cinta, maka hanya ada dua pilihan baginya. Meniru Bunda Khadijah yang terang- terangan mengungkapkan cintanya yang mulia. Atau menjadi seperti Sayidatina Fatimah yang menjaga kesucian cinta dalam diamnya.. Dan aku Fah..,  Aku ingin mencintai seperti Fatimah. Mencintai dalam diam, hingga Allah perkenankan Ali datang kepadanya…” ucap Ulya suatu waktu, ketika Lathifah menayakan alasannya enggan berterus terang kepada Alif tentang perasaannya.

            “Ulya.. kutanyakan lagi kepadamu. Maukah engkau menjadi bidadari dunia dan akhiratku?”

            “Berjuanglah denganku menegakan panji- panji Islam.. ,maka….. aku mau menerima cintamu kang..” jawab Ulya dengan nada bergetar

            “Tentu Ulya… Tentu. Aku akan dampingi setiap langkahmu berjihad di jalanNya.” Jawab Alif pasti. “Tolong terima dan pakailah cincin ini..” sambungnya.

Diambilnya cincin indah itu. Lalu dipakainya di jari manis sebelah kiri.

            “Terima kasih, Kang Alif..” terlukis segaris pelangi di bibir Ulya.

            “Alhamdulillahi rabbil ‘alaminn.. Ya Allah..”

Alif bersimpuh. Sujud syukur ia tunaikan dengan penuh kebahagaiaan.

            Langit Salatiga telah menguning. Sebentar lagi senja yang indah akan hadir.. Sinar Matahari semakin meredup,  hendak kembali ke peraduan. Sebab, setiap sesuatu pasti memiliki tempat kembali. Seperti aliran air yang memiliki muara terakhir. Begitupun cinta, ia harus kembali kepada kemana ia harus tercipta. Cinta harus menetap dan kembali,… agar setia pada satu hati.

~ Tamat ~

Artikulli paraprakPuisi: Hadirlah dalam Mimpi Kami, Bapak
Artikulli tjetërPintu Hati (Cerpen)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini