Beranda Cerpen Ora Basa Ora Kepenak (Cerpen)

Ora Basa Ora Kepenak (Cerpen)

1081
0
Ora Basa Ora Kepenak
Oleh : Rodhiatul Marwiyah (C30)

Namira membenarkan duduknya. Matanya masih jeli menyapu tiap-tiap kata dalam lembar-lembar buku kesayangannya itu. Wajah dan tangannya pun bersamaan merasakan hangat sang surya.

Assalammu’alaikum, Dek, boleh ikut duduk di sini?” tanya seorang santriwati yang pandangannya sudah tertuju pada Namira.

Wa’alaikumsalam. Mangga, Mbak,” jawab Namira disertai dengan rekahan senyum manisnya. Lalu, sedikit menggeser tubuhnya. “Mriki mbak, lenggah mawon.” Namira menepuk bangku panjang yang sudah longgar itu.

“Makasih, Dek. Maaf ngrepotin.”

Nggih, Mbak. Santai mawon. Mboten repot kok.” Namira sekali lagi mengembangkan senyumnya.

“Oh iya, namanya siapa Dek? Aku Nissa.” Nissa mengulurkan tangannya.

Namira pun menggenggam tangan itu, menyalaminya. “Namira Mbak, panggilnya Mira mawon.”

“Ooh… Mira. Sekamar sama Delia, ya?” tanya Nissa antusias.

Nggih mbak. Mbak Nissa kenal kalian Mbak Delia?” respon Mira yang tak kalah antusiasnya.

“Temenku MI dulu, itu. MTS sama MA pisah, malah ketemu lagi di pondok pas kuliah.”

“Wah… berarti sampun akrab nggih Mbak?”

“Iya, dulunya deket banget. Tapi lama nggak ketemu malah agak canggung gitu jadinya,” jelas Nissa.

“Oalah, enggih sih. Biasane nak dangu mboten ketemu ngoten niku, Mbak.”

“Iya. Eh, by the way kalo ngomong sama aku jangan pake bahasa krama dong.”

“Loh! Mbak Nissa bukan orang Jawa to? Maaf, kalo dari tadi nggak paham ya, Mbak.”

“Bukan gitu, aku orang Jawa asli kok. Ya, biar enak aja. Udah biasa pake bahasa Indonesia juga. Biar agak gaul gitu. Kelihatan ndeso pake bahasa Jawa terus,” jelas Nissa.

“Justru kalo bukan orang Jawa, siapa lagi Mbak? Ini bukan berarti saya nggak suka bahasa Indonesia. Saya tetep cinta kok sama bahasa Indonesia. Tapi, masa iya, bahasa daerah mau dibiarkan terkikis zaman? Bahasa Indonesia kan sudah jadi bahasa pemersatu alias penghubung antara suku satu dengan suku lainnya. Lalu, kenapa bahasa krama atau bahasa Jawa tidak bisa jadi penghubung antara orang Jawa satu dengan orang Jawa lainnya? ” timpal Namira.

“Okelah, berarti kita beda pandangan, Dek?”

Nggih mpun, Mbak. Penting kita mboten enten masalah melih nggih, Mbak?”

“Siap! Santai aja!”

Soale, kulo nak mboten basa radi kaku menawi ngomong kalian sing luwih tua ngoten, Mbak. Istilahe, ora basa ora kepenak. Hehehe.” Namira meringis.

“Iya, santai aja! Nggak apa-apa kok.”

***

“Eh! Eh! Dengerin, Guys!” teriak Layla pada semua teman sekamarnya.

“Ada apa sih?” tanya Sania dengan raut wajah penasaran.

Kulo wau sampun nyuwun pirsa kalian Ustadzah Nur, menawi mangkih ngaosipun libur riyen. Saestu, libur!!!” ujar Layla dengan menggunakan bahasa Jawa krama yang mulai lancar.

“Loh! Tenan?” tanya Sania lagi.

Layla mengangguk mantab. “Gimana, Guys? Udah bagus kan caraku ngomong bahasa krama?”

“Oh iya…. baru sadar! Ada peningkatanlah ya…, walau sedikit,” jawab Zizi.

“Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit, dong!” ujar Layla dengan bangganya.

“Iya, iya. By the way, semangat banget sih mau belajar bahasa krama? Aku aja males mau ngomong pake bahasa Krama,” celetuk Nissa.

“Loh loh…, kita kan orang Indo. Kemajemukan itu tidak hanya harus diterima, tapi juga dipelajari. Apa nggak bangga, kalo jadi orang Sunda tapi bahasa Jawa juga bisa? Krama lagi!” jawab Layla dengan antusiasme tinggi.

“Halah…, gebetanmu kan orang Jawa! Pasti nanti buat caper sama mertua tuh!” cibir Nissa yang dibalas Layla dengan ringisan seolah tanpa dosanya.

“Tapi bener sih, salut sama kamu, La! Orang Sunda tapi mau belajar bahasa krama. Sip! Dua jempol, nih!” Zizi mengacungkan kedua jempolnya kepada Layla.

“Iya sih, bener! Aku mau belajar bahasa Sunda, deh! Ajarin, ya, La!” tutur Sania juga dengan semangat 45-nya.

“Santai, santai. Bu Guru Layla di sini!” ucap Layla dengan jumawa.

“Yeee… mukamu bikin emosi!” kata Nissa sambil melempar bantal kearah wajah Layla

Dan perang bantal pun dimulai.

***

Nissa terlihat sedang duduk di bawah pohon mangga yang bunganya sudah berguguran itu, tanda sebentar lagi mangga-mangga kecil akan mulai bermunculan. Napas Nissa terengah. Punggungnya juga terlihat tak baik-baik saja. Roan pagi ini terlihat cukup melelahkan. Karena, Nissa dan teman sekamarnya mendapat bagian membersihkan kamar mandi yang paling banyak penggunanya. Lelah? Tentu saja. Tapi, ini memang kewajiban santri juga. Menggunakan, juga merawat. Bukan begitu?

“Capek Nis?” tanya Sania sambil memberikan Nissa sebotol air mineral dingin.

“Jelas!” Nissa pun segera membuka tutup botol tersebut. “Bismillah.” Lalu, meneguknya sampai tinggal setengah saja isinya. “Alhamdulillah, makasih San.”

“Iya, santai. Aku ke kamar dulu ya. Mau mandi sekalian. Kamu masih mau di sini atau mau ikut?”

“Di sini aja dulu deh.”

“Oke, duluan ya! Assalamu’alaikum.”

Wa’alaikumsalam.”

Nissa sekarang menjadi sendiri. Tiba-tiba ponselnya bergetar. Sebuah panggilan telepon masuk. Nissa pun langsung mengangkat panggilan telepon tersebut.

Assalamu’alaikum, Bapak?”

Wa’alaikumsalam. Pripun kabare, Nduk?” tutur seseorang dari seberang sana. Orang yang saat ini dapat diprediksi Nissa tengah mengembangkan senyumnya.

Sae, Pak. Bapak gimana? Eh! Bapak pripun?” jawab Nissa yang mulai lupa untuk menggunakan bahasa krama.

“Bapak alhamdulillah terus, Nduk. Sehat wal afiat!”

“Bapak ampun….eee….ampun kesupen dhahar nggih, Pak!”

Nggih. Bapak maem terus kok, Nduk. Nissa ampun lali maem lho!”

Nggih, Pak. Mboten supe, kok! Makan, eh… maem terus!”

Nggih. Ampun ngasi sakit!

Nggih, Pak. Ibu pripun kabare?

“Alhamdulillah, mpun maem kathah. Didongakke nggih, kersane lak mari. Lak saget nyambang.

Nggih, Pak. Pasti! Mugi-mugi enggal sehat melih.”

“Amin. Nggih pun nggih, Nduk. Bapak ting sawah riyen.”

Nggih, Pak. Ngatos-atos nggih. Ampun kesupen ngaso mangkih.

Nggih, Nduk. Assalamu’alaikum.”

Wa’alaikumsalam.”

Panggilan telepon pun terputus. Wajah Nissa berubah murung. Pikirannya campur aduk. Di satu sisi, dia merasa sedih mengenai kondisi kesehatan ibunya. Di sisi lain, ia kebingungan mengapa berbicara bahasa krama saja membuatnya kaku sekarang. Ia bahkan lupa beberapa kata dan harus memikirkannya dengan keras.

“Apa bener sih?” pikirannya kembali berputar ke percakapan dua hari lalu, bersama Namira.

Nissa pun sekarang seakan membenarkan perkataan Mira. Baru sekarang, pemikirannya mulai berubah.

Ia pun sekarang sangat jarang menggunakan bahasa krama.

Ia hanya menggunakan bahasa krama jika bertemu dengan Ibu Nyai. Itu pun jarang sekali akhir-akhir ini, karena Nissa lebih banyak di kamar. Berinteraksi dengan ustaz dan ustazah pun menggunakan bahasa Indonesia. Apalagi hanya dengan teman-temannya, tentu saja bahasa krama sama sekali tidak digunakan.

Nissa pun lalu memikirkan, bagaimana malunya kalau dia, orang Jawa tulen tidak bisa bahasa krama? Terlebih, kedua orang tuanya saja selalu menggunakan bahasa krama ketika berbicara dengannya. Tentu saja dengan maksud untuk mendidik anaknya juga. Ia tak bisa membayangkan, bagaimana kecewa kedua orang tuanya ketika tahu anaknya kehilangan salah satu pondasi adab komunikasi di dalam lingkungan Jawa. Karena, bahasa krama adalah dasar penghubung antar generasi yang juga berlandaskan atas rasa hormat.

***

Mendung. Gerimis pun tak luput hadir, menyertai dingin deru angin pagi ini. Nissa tengah duduk bersamaan dengan Al Qur’an yang baru saja ia tutup dengan bacaan tasdiq.

Assalamu’alaikum, Mbak. Boleh ikut duduk di sini?”

Tiba-tiba saja terdengar suara yang membuat Nissa sontak mendongakkan wajahnya.

“Oh, Mira. Mangga, Mir! Lenggah!” ujar Nissa mempersilakan Mira, disertai dengan senyuman manis keduanya.

“Makasih, Mbak Nissa.”

“Iyo, santai, Mir! Loh, kok bukan bahasa Jawa lagi?”

“Biar gaul, Mbak. Hehe,” jawab Namira cengar-cengir, sedikit menyindir.

“Loh, ampun! Ayo kancani aku basa Jawa wae. Warahi aku ya, Mir! Mulai lali basa krama. Hehe.”

“Loh? Saestu, Mbak? Mbak Nissa badhe ngagem basa krama?”

Nissa mengangguk mantab. “Warahi ya, Mir!”

“Siap, Mbak! Ngagem bahasa Indonesia niku angsal, sae juga malah. Soalnya bahasa Indonesia niku bahasa persatuan. Tapi, niatnya juga diluruskan riyen. Mboten sekedar buat gaul-gaulan. Apalagi, bahasa daerahnya sampai dilupakan.”

“Iya, Mir. Aku sadar.” Nissa menekuk wajahnya. “Tapi, mulai sekarang, bantu aku untuk menanamkan semboyan ‘ora basa ora kepenak’ di hatiku ya, Mir!” tambah Nissa.

Nggih, siap Mbak Komandan!”

LOMBA MENULIS CERPEN

Tema: Peran Santri dalam Melestarikan Bahasa

Dalam Rangka Bulan Bahasa 2020 Pondok Pesantren Tarbiyatul Islam Al Falah Salatiga

Artikulli paraprakKalam Pesantren (Cerpen)
Artikulli tjetërAKSARA : Al Falah Keluarga Satu Rasa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini