Beranda Artikel Halal bi Halal, Pribumisasi Silaturahmi

Halal bi Halal, Pribumisasi Silaturahmi

604
0
Halal bi Halal Pribumisasi Silaturahmi

pptialfalahsalatiga.com – Setelah melakukan ibadah puasa pada bulan Ramadhan umat islam seluruh dunia akan merayakan hari raya idul fitri. Satu bulan penuh umat muslim menjalankan ibadah fisik yang berupa meninggalkan makan, minum, serta hawa nafsu pada siang hari. Pada moment idul fitri (1 Syawal) ini, hal-hal tersebut malah harus kita tinggalkan. Umat muslim haram berpuasa pada hari tersebut. Umat muslim mengklaim hari raya ini sebagai hari kemenangan. Selain itu hari raya idul fitri juga lazim dikenal sebagai moment lebaran. Moment untuk berkumpulnya sanak keluarga sekaligus silaturahmi, kepada kerabat-kerabat. Pada idul fitri inilah, handai taulan menyempatkan berkumpul.

Umat muslim di Indonesia memiliki corak khas dalam euphoria Idul Fitri. Tradisi Halal bi Halal seakan menjadi hal yang wajib di Indonesia, terutama masyarakat Jawa. Halal bi Halal adalah produk dari kearifan Ulama Nusantara dalam mengemas nilai dakwah islam. Para ulama menyerap nilai-nilai islam, lalu memadukannya dengan kultur jatidiri bangsa. Bahkan, tradisi inilah yang menjadi media pemersatu berbagai golongan saat bangsa Indonesia baru-baru merdeka. Istilah Halal bi Halal sendiri tak terlepas dari kiprah ulama kondang Nahdlatul Ulama, KH. Wahab Chasbullah. Beliau mengusulkan menggunakan kata ‘halal’ (sebagai antonim dari ‘haram’) kepada presiden Sukarno. Alasannya sederhana, yakni perbuatan buruk atau kesalahan-kesalahan manusia adalah bentuk kemaksiatan (yang berkonotasi haram). Oleh karena itu, harus dibenahi dengan hal-hal yang baik salah satunya dengan saling memaafkan atau mengikhlaskan.

Halal bi halal adalah istilah yang sudah membumi untuk masyarakat di Indonesia. Bahkan, telah mencakup menjadi budaya nasional. Tentunya, halal bi halal yang menjadi ikon pada moment lebaran ini sejalan dengan berbagai hadist Nabi Muhammad yang menceritakan keutamaan-keutamaan silaturahmi. Silaturahmi (nepung sanak -bahasa jawa) inilah yang menjadi cikal adanya tradisi ini. Meskipun hanya lazim ada pada moment hari raya idul fitri (lebaran), silaturahmi tetap bisa kita lakukan kapanpun.

Artikulli paraprakMakna di Balik Keserasian Ketupat dan Opor Ayam
Artikulli tjetërHati-Hati! Link Phising Mengincar Privasi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini