SAWWA KONVEKSI
Beranda Cerpen Untaian Doa Ayah (Cerpen)

Untaian Doa Ayah (Cerpen)

351
0
cerpen
Ayo daftar SMP RUQ

“Kenapa Husayn harus mondok Ayah? Husayn disini aja, lagian nanti yang jagain Ayah siapa?” kataku sambil terus memijat punggung Ayah.

“Hidup itu, terlalu sebentar untuk mempelajari ilmu yang begitu banyak. Ayah pengen kamu mondok supaya ngaji-nya bener. Bukan hanya Al Qur’an, tapi juga ilmu agama yang lain. Ayah juga berat melepas Husayn, tapi akan lebih berat bagi Ayah jika membiarkan Husayn menjalani hidup tanpa ilmu yang benar. Dan kamu harus tau, Ayah sudah besar, bukan anak kecil yang perlu dijagain.” Ayah tersenyum, meminum kopinya.

“Siapa yang bakal bantuin Ayah di sawah? Biasanya juga setelah dua jam-an nyangkul, Ayah langsung pegal-pegal badannya.” Aku terus mencari cara agar Ayah berubah pikiran.

Ayah memandangi hamparan sawah di depannya, “yaa.. kalau dilihat-lihat sih, sepertinya memang gak sanggup kalau Ayah ngurus sawah sendiri, mungkin nanti Ayah ajak paman Abdul aja, katanya baru di-PHK sama kantornya.”

Aku menghela nafas panjang, “nanti Ayah sendiri di rumah…”

“Kata siapa? Ayah tidak sendirian, ada Bunda yang selalu menemani Ayah disini.” “Bunda udah nggak ada..,” kataku lirih.

“Tapi cintanya masih disini,” Ayah tersenyum lembut. “Ya Allah, anakku ingin mencari ilmu, permudahkanlah jalannya.. Mantapkanlah hatinya. Begitu juga denganku, berikanku rasa tenang dan damai melepasnya mencari ilmu, insyaallah aku ridho, Ya Allah…” Aku terhenyak, tidak bisa berkata apa-apa lagi.

Sejak kecil, aku selalu mendengar untaian doa dari Ayah, tidak pernah dikatakannya hal yang buruk di depanku. Saat aku senang atau sedih, saat aku berhasil atau gagal, saat aku sedang tidur, makan, belajar, dan melakukan banyak aktivitas lainnya, Ayah selalu berdoa yang terbaik untukku.

Bahkan saat Bunda pergi karena stroke yang dideritanya, Ayah berdoa, “Ya Allah.. ganti rasa kehilangan ini dengan rasa syukur bisa menemaninya hingga akhir hembusan nafasnya. Kuatkanlah aku dan anakku, anakku masih butuh sosok orangtua yang menyayanginya. Ridhoilah anakku, dia selalu berbakti, selalu menurut dan sangat sayang pada Bunda-nya..”

Tapi.. “Ayah, gimana kalau Husayn malah menyia-nyiakan waktu Husayn bersama Ayah? Bukan maksud apa-apa.., tapi bagaimana kalau dalam waktu dekat, salah satu dari kita pergi menyusul Bunda? Bukannya lebih bagus kalau kita menghabiskan waktu bareng-bareng aja ya?” tanyaku takut-takut.

Ayah tertawa menepuk bahuku, “Emangnya kamu tahu, kita hidup sampai kapan? Husayn.. daripada menghabiskan waktu sama Ayah hanya untuk membuat kopi dan memijat Ayah, lebih baik kamu pergi ngaji, mencari ilmu, mencari ridho guru. Coba Husayn bayangkan, apakah tidak sia-sia jika kau tidak memanfaatkan waktu mudamu untuk mencari ilmu? Kamu tidak akan mendapatkan apa-apa jika hanya diam disini bersama Ayah. Soal kebersamaan, insyaallah, kita bisa lebih sering dan mempunyai banyak waktu untuk bersama saat di akhirat nanti.”

“Aah.. Ayah kok ngomongnya gitu sih? Kalah telak aku,” ucapku kesal. Ayah hanya tersenyum jahil, mengambil cangkulnya dan kembali bekerja.

Aku meletakkan tas dan kardus berisi perlengkapan pribadiku di depan bangunan pondok, kulihat dibelakang Ayah datang dengan beberapa panitia penerimaan santri baru. Kulihat semringah di wajahnya, entah apa yang Ayah rasakan. Aku sendiri tidak tahu bagaimana perasaanku, bercampur aduk. Ada rasa senang dan semangat, tapi juga rasa sedih dan berat meninggalkan Ayah.

“Husayn, Ayah pulang ya. Ini uang jajannya, dijaga, jangan boros. Tiap minggu telpon Ayah ya? Biar kita tetap bisa ngobrol seperti biasanya,” kata Ayah sambil merapikan peciku yang miring. Setelah mengucapkan salam, Ayah beranjak pulang.

Dan begitu saja, aku sudah berada di kamar, menyusun barang-barang. Mulai berkegiatan bersama teman-teman baru. Semuanya kujalani tanpa kusadari. Beginikah rasa berpisah dengan Ayah? Kukira mudah..

“Ayah.. Husayn nggak bisa.. banyak hafalan, terus harus sekolah juga.. kangen Ayah..” Air mataku mengalir, menumpahkan segala yang kurasakan selama beberapa minggu terakhir.

“Ya Allah, Husayn anakku adalah anak yang hebat, anak yang kuat, semangat mencari ilmu, ridhoilah setiap langkahnya, berikanlah ia rasa betah di pondok. Aamiin yaa rabbal’alamiin..” Kudengar kembali untaian do’a yang kurindukan.

Tenggorokanku tercekat, aku yakin disana Ayah juga sedang berusaha. Mengurus sawah sendiri, menikmati secangkir kopi sendiri.

“Makasih Ayah.. doain Husayn terus yaa..” kataku setelah agak tenang.

“Pasti Sayn.. Ayah selalu berdoa yang terbaik, kamu tau itu.”

Hari-hariku kini sibuk diisi dengan seputar kegiatan pondok dan sekolah. Oh iya, jangan lupakan cucian baju yang menumpuk. Rasa kangen rumah dan Ayah mulai terkendali, mungkin masih sering muncul, tapi aku sudah tau cara mengatasinya.

Kalau biasanya isi telfonanku dan Ayah berisi segala keluh kesahku tentang pondok, sekarang aku dengan lancarnya menceritakan kekonyolanku bersama teman sekamar, malunya saat di ta’zir membaca Al Quran di depan banyak santri lain, bagaimana ketika aku menertawakan teman yang digundul karena melanggar aturan, serunya saat tanding bola.

Ayah juga dengan semangat menceritakan hasil panennya yang melimpah, serunya saat berkumpul dengan para petani lainnya untuk sekedar mengobrol, kocaknya Ayah saat memperbaiki atap yang bolong dan malah semakin parah.

“Sayn, ada telpon dari Ayahmu!”

Aku yang sedang mengerjakan tugas, menerima handphone milik pengurus pondok, sepertinya ada sesuatu yang penting, sehingga Ayah harus menelponku lagi, padahal baru 2 hari yang lalu kami mengobrol panjang tentang pilihanku meneruskan pendidikan ke jenjang SMA.

“Assalamu’alaikum Ayah, ada apa?” salamku.

“Wa’alaikumsalam, Ayah cuma kangen, dan tiba-tiba aja kok rasanya pengen nelpon kamu,” kata Ayah sambil terkekeh. “Tapi kayaknya Husayn lagi sibuk ya? Kalau gitu nanti lagi aja Ayah telpon lagi.”

Aku melirik buku tulis dan buku paket dihadapanku, sepertinya tidak apa jika ditunda sebentar. “Gak apa-apa Ayah, Husayn ada tugas sih.. tapi masih bisa dikerjain nanti.”

Obrolan pun mengalir dengan lancar, sampai akhirnya, Ayah menyinggung tentang pilihanku masuk SMA negeri.

“Menurut Ayah bagus kok kalau kamu masuk kesana, mana yang paling Husayn sreg aja. Insyaallah, Ayah akan mendukung Husayn.”

“Tapi Ayah, emangnya uang Ayah cukup? Husayn nggak apa-apa kok, kalau emang gak bisa sekolah, disini banyak santri senior yang kuliah, insyaallah bisa ngajarin Husayn. Nanti Husayn ikut kejar paket aja biar lebih terjangkau..” kataku hati-hati.

“Ah, kamu mah.. ngeremehin Ayah, gini-gini Ayah bisa kok bayarin Husayn sekolah. Nggak usah khawatir, tugas Husayn belajar aja yang bener.. Ya?” kata Ayah.

Aku sudah memikirkan ini berulang kali, meskipun biaya sekolah di negeri itu terbilang murah, tapi tetap saja, hasil penjualan kopi yang dipanen Ayah tidak akan bisa mencukupi.

“Ayah.. Husayn nggak apa-apa.. Mending uangnya ditabung aja, buat persiapan Husayn masuk kuliah nanti.” Aku melihat ke brosur SMA negeri yang kuinginkan, sepertinya memang harus dilepas.

Untuk beberapa saat, tidak ada suara dari mulutku atau Ayah. Aku jadi takut Ayah marah.. “Ayah, Husayn minta maaf.. maks-“

“Husayn, kamu boleh ragu, apakah Ayah bisa atau tidak. Tapi kamu gak boleh ragu pada Allah yang selalu memberikan rezeki dan jalan bagi hambanya yang semangat mencari ilmu.” Ayah menghela nafas sebentar dan berdoa, “Ya Allah.. anakku ingin sekolah di SMA negeri, bantu dia, permudahlah kegiatan belajarnya. Ridhoilah dia ya Allah..”

Aku tersenyum, sepertinya Ayah benar. “Aamiin…” balasku. “Oh iya, kenapa Ayah selalu membalas segala yang terjadi dengan doa?”

“Karena doa adalah segalanya. Kita hanyalah manusia yang sebenarnya tidak bisa berbuat apa-apa tanpa bantuan Yang Maha Kuasa. Ketika Ayah sedih, Ayah berdoa agar rasa sedih Ayah teratasi. Saat Ayah merasa bahagia, Ayah berdoa agar rasa senang ini adalah rasa senang yang diridhoi oleh Allah SWT. Ketika ada yang susah, hanya Allah yang bisa membantu kita Sayn.. Tidak ada satu orang pun didunia ini yang bisa dengan terus-menerus memberikan pertolongan untuk kita. Kita bisa, karena izin Allah.. Dari    dulu,   Ayah selalu dibiasakan untuk berdoa, kalau ada yang diinginkan, perlu pertolongan, hati gundah gulana.. apapun itu, biasakan untuk berdoa sama Allah.. Bagi Ayah, ini sudah seperti nafas..” jelas Ayah.

Aku manggut-manggut mendengarnya, “Ayah.. Husayn minta doa lagi dong..” “Tumben-tumbenan kamu inisiatif minta doa ke Ayah.” Ayah menggodaku.

“Ish.. Ayah, biarin atuh..” aku terkekeh.

“Ya Allah.. Berikanlah rencana terbaik-Mu untukku dan anakku.. Permudah dia dalam mengejar mimpinya. Ridhoilah anakku.. Berikan dia ilmu dan rezeki yang baik dan bermanfaat, jadikan ia pemuda yang tangguh, yang beriman pada-Mu sampai akhir hayatnya Ya Allah… saya ridho pada anakku..” suara Ayah bergetar.

Tidak terasa, air mataku menetes. “Ayah.. makasih udah mau doain Husayn terus, maaf Husayn belum bisa banggain Ayah..”

“Kalau mau mondok itu, pertama minta ridho orang tua. Orangtua ridho nggak, anaknya pergi belajar.. ridho nggak, jauh-jauhan, kangen-kangenan sama anak. Ridh-” Penjelasan Ustad Nabhan terpotong oleh panggilan melalui pengeras suara.

“PANGGILAN KEPADA MUHAMMAD HUSAYN, AGAR SEGERA MENUJU POS JAGA. TERIMA KASIH.”

Setelah izin ke Ustad Nabhan aku berlari menuju pos jaga, beberapa kali tersandung-sandung atau menabrak orang lewat. Ada apa ya? Semoga benar-benar penting, tidak enak rasanya jika harus meninggalkan kelas hanya untuk hal sepele.

“Ada apa, Kang?” Tanyaku begitu sampai disana.

“Ada telepon dari pamanmu, darurat katanya..”

Aku menerima handphone dengan alis terangkat, aku tidak punya paman.

“Assalamu’alaikum..” salamku.

“Wa’alaikumsalam, Husayn? Ini Paman Abdul, tetangga sebelah.”

“Ooh.. Paman Abdul toh.. kirain siapa, ada apa?” tanyaku penasaran.

“Pulang Sayn…” kata Paman Abdul lirih.

“Kenapa?”

“Ayahmu…”

“Ayah? Ayah kenapa?” Aku mulai was-was.. Ya Allah.. ada apa ini?

“Ayahmu udah gak ada..”

“Ayah.. Husayn pulang..” ucapku sambil menangis di depan pusara Ayah. “Makasih untuk doa-doanya.. Husayn akan kangen berat sama Ayah.. sama doa-doa Ayah. Disisa waktu Ayah, Ayah masih menyempatkan diri berdoa yang terbaik untuk Husayn..” Kurasakan hujan mulai turun, membasahi seluruh tubuhku.

“Ayah.. doa Ayah terkabul, Husayn bisa masuk SMA karena beasiswa dari pondok. Husayn jadi santri terbaik seangkatan loh.. Ayah gak perlu khawatir, Husayn pasti kuat.. Ayah juga selalu berdoa kaya gitu kan?”

Aku beranjak meninggalkan pusara.

Ayah.. aku pasti akan merindukan untaian doa-doamu.

Oleh: Nisrin Hedianto Satria
Juara 1 Lomba Menulis Cerpen dalam Rangka Memperingati Hari Aksara Internasional 2021 Unit Kegiatan Santri Perpustakaan PPTI Al Falah Salatiga
Ayo Sedekah Jariyah unuk SMP RUQ
Artikel sebelumyaUrgensi Nasionalisme dan Budaya Literasi di Pesantren (Esai)
Artikel berikutnyaHarian Kesederhanaan (Cerpen)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here