Beranda Cerpen Cerpen: Dari Masa Lalu, Menuju Masa Depan

Cerpen: Dari Masa Lalu, Menuju Masa Depan

801
0
dari masa lalu, menuju masa depan
dari masa lalu, menuju masa depan

Setelah hari itu, Tessa berusaha untuk mengikhlaskan yang telah terjadi, karena ia percaya bahwa yang pergi dan tak akan pernah kembali adalah sebuah takdir Illahi. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, kini gadis berlesung pipi itu menjalani hari-harinya dengan sang ibu tercinta. Semenjak kepergian ayahnya, kini sang ibu harus berjuang sendiri dan berjuang lebih keras menjadi tulang punggung keluarga. Dengan kerja keras sang ibu ibaratkan kaki bagaikan kepala, kepala bagaikan kaki. Hingga anak  semata wayangnya  itu  bisa melanjutkan belajarnya hingga saat ini.

Kini Tessa telah duduk di bangku SMA, ia  mulai berpikir bahwa dirinya adalah satu-satunya harapan ibunya. Anak semata wayang ini mempunyai talenta yang lebih dibandingkan teman-temannya yang lain. Namun, terkadang ia masih merasa belum yakin akan kemampuan dirinya.

“Tessa, public speaking kamu bagus, Ibu sangat mengapresiasinya. Saya suka dari gaya kamu berbicara, luar biasa,” kata Waka Kesiswaan pada saat itu.

Pada acara perpisahan sekolah, Tessa ditunjuk untuk menjadi host pada acara pra inti, dengan begitu gadis yang selalu ceria ini membawakan acara tersebut dengan maksimal dan hangat. Pembawaan dari kemampuan berbicara di depan umum memang sudah tidak diragukan lagi, karena ia memang sudah hobi berbicara di depan umum sejak kecil.

Selain dari public speaking yang baik, gadis berlesung pipi itu juga sering menjuarai beberapa perlombaan yang diadakan baik tingkat kabupaten, provinsi, hingga nasional. Meskipun begitu tidak membuatnya merasa hebat. Dengan kerendahan hatinya membuat teman-temannya menyukai sifatnya ini. Tessa selalu ingat pesan ayahnya dulu semasa hidupnya, “apapun yang terjadi ingatlah  Nak.. tetaplah rendah hati, rendahkanlah hatimu serendah-rendahnya hingga tiadalah orang yang merendahkanmu.”

Namun, hal yang demikian lain dengan kehidupan di masyarakatnya, terkadang ada saja tetangga yang iri dengan gadis yang satu ini. Karena ia hidup di desa, tak jarang  banyak tetangga yang sering menghujatnya.

“Udah orang susah, masih aja gaya-gayaan sekolah di sekolah favorit, mbok ya mikir,” kata salah seorang tetangga.

Kalimat tersebut sering terdengar oleh gadis manis itu , karena banyak juga tetangga yang tidak suka dengannya karena anak mereka tidak bisa sekolah di sekolah favorit seperti Tessa. Tak seperti hidup di kota memang, yang mayoritas orang-orangnya lebih individual. Namun, hal yang demikian tidak mematahkan semangat anak semata wayang itu untuk belajar demi meraih cita-citanya. Justru dengan hujatan tersebut menjadi salah satu motivasi dirinya, ia percaya bahwa suatu saat nanti dia akan membuktikan kepada semuanya bahwa dia bisa. Bisa merubah hidupnya menjadi lebih baik lagi.

Setiap harinya Ibu Tessa bekerja di kebun peninggalan dari ayah gadis berlesung pipi itu. Menanam tanaman dan sayuran seperti cabai, jahe, kopi, dan sejenisnya untuk bisa di panen dan dijual. Dengan menjual hasil pertanian yang ditanam, sang ibu bisa menopang ekonomi keluarga dan membiayai pendidikan sang anak tercinta. Bukan hanya sang anak yang terbiasa mendapatkan hujatan dari tetangga, begitu pun  dengan ibunya juga sering mendapatkan gunjingan dari tetangga dan kerabatnya.

“Orang hidup aja susah gitu, kok ya anaknya sekolahnya muluk-muluk, sekolah favorit apa lah itu,” kata salah satu tetangga. Sang ibu selalu mendukung apa yang dilakukan oleh anak semata wayangnya itu, karena ia percaya suatu saat nanti anak semata wayangnya bisa mencapai cita-citanya. Tessa merupakan harapan satu-satunya sang ibu. Ketika ada hujatan dari para tetangga, ibu dari anak gadis yang satu ini selalu diam karena diam bukan berarti kalah, karena dengan diam tidak akan memperpanjang masalah. Hal itu sering dilakukan oleh ibu gadis berlesung pipi itu.

Malam itu anak gadis yang mempunyai talenta itu berbicara kepada ibunya.

“Bu, saya sudah kelas 3 SMA, sebentar lagi lulus,” kata sang anak kepada ibunya. Sejenak membuat Ibunya berpikir apakah dirinya bisa menyekolahkan anaknya ke perguruan tinggi atau tidak.

“Iya, Nak. Apa rencanamu ke depan setelah ini? Ibu akan selalu mendukung dan merestui apa yang menjadi cita-citamu, tapi kamu harus tau juga kondisi kita,” tanya Ibunya kepada anak gadisnya.

Tessa tersenyum kepada ibunya, dia mengatakan kepada ibunya bahwa setelah lulus nanti dia tidak ingin memberatkan ibunya, dia ingin tetap sekolah. Gadis desa itu  ingin melanjutkan pendidikan di PKN STAN. Dengan kemampuan akademik yang dimilikinya dan restu dari sang ibu, anak perempuan semata wayang itu yakin bisa masuk di perguruan tinggi yang ia idam-idamkan.

Selanjutnya, ujian nasional telah usai. Kini saatnya Tessa memperjuangkan cita-citanya untuk bisa masuk di PKN STAN. Gadis berlesung pipi itu belajar mati-matian setiap hari, dengan latihan soal-soal, latihan fisik, dan yang lain untuk persiapan seleksi.

Dengan restu ibunya dan dukungan dari guru-guru di sekolahnya gadis semata wayang itu mengikuti seleksi penerimaan mahasiswa baru PKN STAN, tahap demi tahap dia lalui dan akhirnya berhasil menjadi bagian dari PKN STAN seperti impiannya.

Dengan mengambil jurusan perpajakan, akhirnya Tessa dapat lulus dengan predikat tertinggi. Hal ini tentu membuat ibunya bahagia. Setelah lulus dari PKN STAN, Tessa dapat langsung ditugaskan di tempat dinasnya. Hal itu tentu membuat tetangga dan kerabat yang dulu sering menghujatnya kini menjadi tidak menyangka.

Kegigihan, usaha, dan doa yang selama ini di lakukan terbukti merubah segalanya. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, yakinlah pada diri kita sendiri bahwa kita bisa dan percayalah bahwa sesungguhnya usaha dan doa yang melangit tidak akan kembali dengan tangan hampa.

Artikulli paraprakSeminar Mahasantri: Antara Tradisi dan Inovasi
Artikulli tjetërDialog Santri: Pesantren (harus) Menolak Kekerasan Seksual

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini