Beranda Berita RMI PWNU Jateng Sosialisasikan Kurikulum Madrasah Diniyah

RMI PWNU Jateng Sosialisasikan Kurikulum Madrasah Diniyah

462
0

pptialfalahsalatiga.com – Sosialisasikan Madin, Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama atau biasa disebut dengan (RMINU) terapkan pembelajaran aswaja berlangsung di Aula PPTI Al Falah Salatiga, Rabu (7/9). Madrasah diniyah NU merupakan lembaga di bawah naungan RMI yang berpijak tidak hanya pada pendidikan formal, tetapi juga non formal.

Dalam sambutannya, ketua RMI PCNU Kota Salatiga, Nashif Ubaddah, L.C. menyampaikan harapan bahwa adanya RMI bisa menjadi Khadimul Masyayikh (pembantu kyai). Dengan begitu, RMI dalam implementasinya bisa membantu para kyai dalam mengurus pondok pesantren terutama dalam bidang diniyah.

“RMI bukan lembaga yang memiliki pondok pesantren, tetapi sebuah lembaga yang bisa menjadi abdi dan praktisi dari pondok pesantren,” terang Ketua RMI PCNU Kota Salatiga.

Kemajuan madrasah diniyah tidak luput dari kemajuan pondok pesantren. Maka dari itu penerapan pembelajaran aswaja sebagai kurikulum madrasah diniyah perlu diperhatikan.

“Empat kelebihan pengajaran dalam pondok pesantren, sehingga pada zaman sekarang pesantren memiliki daya tarik terutama bagi orang tua. Diantaranya yaitu tarbiyah, tarkib, spiritual dan disiplin,” jelas K.H. Muhammad Ghufron.

K.H. Nur Machin Chudlori selaku Ketua RMI PWNU Jawa Tengah menjelaskan bahwa pada awalnya beliau mendapatkan dua amanah yaitu tafaquh fi-diin dan madrasah. Madrasah yang semula fokus pada segi kualitas, sekarang juga berfokus dalam segi kuantitas. Karena menurut penjelasan beliau, kemajuan pondok pesantren juga tidak lepas dari kemajuan madrasah diniyah di dalamya.

“Ada 2 hal yang tertinggal dalam pembelajaran dalam pondok pesantren yang perlu pembenahan yaitu pendidikan akhlak dan motivasi untuk mengaji,” tegas beliau dalam sambutannya.

Pembelajaran aswaja yang sudah tertuang dalam buku pedoman pendidikan aswaja memiliki harapan agar santri memiliki sebuah prinsip. Serta mempunyai ciri khas yang tidak akan hilang meskipun sudah berada di masyarakat.

“Koordinasi RMI yang memiliki fokus dalam kurikulumnya menjadi harapan bahwa tradisi harus tetap ada dalam pondok pesantren salah satunya yaitu kitab kuning,” terang Gus Fadlu dalam penjelasannya.

Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMINU) mempunyai beberapa amanah salah satunya yaitu fasilitator yang bertugas untuk mendorong kemajuan dalam NU. Selanjutnya, lembaga ini juga bertugas menitipkan pembelajaran aswaja dalam pendidikan formal maupun non formal. Terakhir, RMI memfasilitasi perkembangan madrasah diniyah yang mempunyai kurikulum yang opsional.

Artikulli paraprakTaspona 2022, Kenapa Ada Pengukuhan Santri Baru?
Artikulli tjetërJelang HSN 2022 Santri Al Falah Ikuti Lomba Lalaran Kreatif

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini