Beranda Cerpen Cerpen: Di Balik Zaid yang Selalu Memukul Amar

Cerpen: Di Balik Zaid yang Selalu Memukul Amar

521
0

Di ceritakan dalam kitab An-Nadhorot karya Syaikh Musthofa Luthfi bin Muhammad Luthfi al Manfaluti, bahwa konon ada salah seorang menteri dari pemerintahan Daulah Utsmaniyah yaitu Daud Basya yang ingin belajar Bahasa Arab. Lalu dia mendatangkan salah seorang ulama untuk mengajarinya. Setiap kali sang guru menjelaskan i’rab rafa’ dan nashob atau fa’il dan maf’ul, ia mencotohkan dengan lafadz “dharaba zaidun ‘amran“, yang berarti zaid memukul amar.

Sang menteri lalu bertanya “Apa kesalahan Amar sampai sampai Zaid memukulnya tiap saat? Apakah kedudukan Amar lebih rendah dari Zaid sehingga Zaid bebas memukulnya, menyiksanya, dan Amar tidak bisa membela dirinya?“ Tanya sang menteri sambil menghentakkan kakinya ke tanah sambil marah-marah. Sang guru menjawab “tidak ada yang memukul dan tidak ada yang dipukul, ini hanya contoh yang dibuat ulama nahwu untuk lebih memudahkan mempelajari kaidah nahwu“.

Rupanya jawabannya tidak memuaskan hati sang menteri. Dia marah, lalu ia memenjarakan ulama tersebut. Kemudia ia menyuruh orang untuk mencari ulama nahwu lain. Ia menanyakan pertanyaan tersebut kepada mereka. Jawabannya sama, hingga banyak ulama nahwu di negerinya terpenjara akibat jawaban yang tidak memuaskan hati. Penjara penuh dengan ulama-ulama dan madrasah pun sepi.

Kejadian ini pun menjadi pembahasan di mana-mana, hingga sang menteri mengutus anak buahnya untuk menjemput para ulama ahli nahwu di kota Baghdad. Mereka datang menghadiri undangan tersebut dengan dipimpin seorang ulama yang paling alim, cerdas, cakap dan cerdik.

Dihadapan para ulama, Menteri Daud Basya bertanya lagi tentang kesalahan Amar yang sampai sampai ia selalu dipukul Zaid.

Ulama itu pun menjawab “Kesalahan Amar adalah ia telah mencuri huruf wawu yang seharusnya milik Anda“. Ia menunjukkan adanya huruf wawu dalam lafadz ‘Amran setelah huruf Ro. “dan huruf wawu inilah yang seharusnya ada pada lafadz Daud. Lihat wawu lafadz daud hanya 1 yang seharusnya ada 2“ lanjut sang ulama. Sang menteri pun terdiam sejenak, dan ulama itu melanjutkan “Oleh sebab itu ulama nahwu memberikann wewenang kepada Zaid untuk selalu memukul Amar sebagai hukuman atas perbuatannya!”.

Mendengar jawaban tersebut sang menteri benar-benar puas dan memuji sang ulama. Sang menteri menawarkan hadiah apa saja yang ulama kehendaki. Namun sang ulama hanya meminta agar para ulama yang dipenjarakan segera dibebaskan.

Penulis: Nafisah Fitriani Nur Salim

Artikulli paraprakPuisi: Serba Ada tapi Salah Guna
Artikulli tjetërPuisi: Senja dan Rindu

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini