Beranda Cerpen Cerpen: Kabur

Cerpen: Kabur

493
0

“Sahurr… sahurrr… sahurrrr…”

Suara tabuhan derigen pemuda kampung  membangunkan Sio dari tidur nyenyaknya. Ia terperanjat karena teringat ia harus membangunkan majikannya untuk sahur. Namun sebelum ia berteriak untuk membangunkan majikannya untuk sahur, majikannya ternyata sudah terbangun karena suara alarm dari telepon genggam milik majikannya.

“Yahh.. Aku telat lagi, besok pokoknya Aku harus bisa bangun lebih awal.” Kata Sio dalam hati.

Keesokan harinya, Sio bangun lebih awal sesuai dengan apa yang dia rencanakan dihari sebelumnya. Namun, ketika ia akan berteriak ia kembali didahului oleh suara alarm dari telepon genggang sang pemilik. Sio kemudian merasa sedih dan kecewa.

Sudah beberapa kali tugasnya digantikan oleh suara alarm hari telepon genggam sang majikan. Ia merasa keberadaannya sudah tidak dibutuhkan lagi. ia kemudian merencanakan untuk kabur dari rumah majikannnya. Ketika rumah sedang tidak ada orang, ia lalu menjalankan recananya untuk kabur.

“Wahh, ini saat yang tepat untuk kabur dari sini, Aku sudah tidak tahan dengan semua ini, Aku kecewa dengan mu, majikanku, kau sudah tak menganggapku ada lagi.”

Sio lalu meloncat dari jendela ke pekarangan belakang rumah. Ia lalu menuju gerbang belakang rumah pemiliknya tadi. Sambil bergumam

“Selamat tinggal majikan, semoga penggantiku bisa melaksanakan tugas untuk membangunkanmu dengan baik.”

Sio kemudian menyusuri  jalanan yang cukup sepi. Hingga ada sebuah truk kontainer pembawa barang agak hilang kendali dan hampir melindasnya.

Sio kaget bukan kepalang dan berhenti sejenak untuk beristirahat. Namun ketika sedang berhenti, ada seorang pemulung yang mendekatinya. Ia melihat sio dengan seksama, lalu berkata.

“Wah bagus sekali Jam Beker ini, ini kan merek Casio, merek terkenal, kalo aku jual di toko antik pasti laku mahal”. Sang pemulung lalu memungut Sio dan memasukkanyya kedalam karungnya.

Didalam karung Sio panik dan berusaha untuk kabur dari jeratan si pemulung.

“Waduh bagaimana ini, kenapa malah jadi begini ? aku harus keluar dari sini secepatnya”

Ia lalu menemukan sebuah ide untuk kabur dari jeratan san pemulung. Ketika pemulung tersebut sedang beristirahat dibawah pohon ia lalu keluar secara diam-diam dari karung. Ia mengendap-endap agar tidak memunculkan keributan. Setelah agak jauh dari jangkauan si pemulung, Sio kemudian beristirahat di tempat yang aman. Ia merenung tentang apa yang telah dialami olehnya hari ini.

“Aku kabur belum ada 24 jam saja, sudah hampir celaka berkali-kali. Hari ini mungkin aku beruntung bisa selamat, tapi kalo besok-besok aku celaka dan akhirnya hancur aku tidak bisa bertemu dengan majikanku lagi. Baiklah kalau begitu, aku akan kembali ke rumah majikanku saja kalau begitu. Terserah dia mau menganggapku ada atau tidak, aku akan selalu bersama dengannya sepanjang waktu.”

Akhirnya Sio memutuskan untuk kembali ke rumah majikannya. Di perjalanan ia melewati sebuah toko jam dan melihat seorang anak perempuan kecil dengan bangganya menenteng jam beker baru sambil berkata,

“Asyik, akhirnya aku sudah punya jam beker baru. Semoga nanti sahur aku bisa bangun tepat waktu dan membantu ibuku di dapur.”

Mendengar ucapan anak perempuan tadi, Sio menangis. Ia ingat saat pertama kali ia dibeli oleh majikannya dulu saat masih kecil. Majikannya juga sangat senang pada saat itu. Dengan bangganya ia memperlihatkan kepada orang-orang terdekatnya bahwa ia memiliki jam beker baru, yaitu Sio.

Mengingat kejadian itu, akhirnya Sio semakin mantap untuk kembali ke rumah majikannya. Ia sadar bahwa ia mempunyai tempat tersendiri di hati majikannya.

Sesampainya di rumah, Sio kembali ketempatnya seperti semula. Sang majikan kemudian muncul dengan wajah yang agak panik dan kaget “Lho, ternyata jam bekerku masih disini, aku kira hilang kemana, kalo hilangkan sayang banget.”

Sang majikan kemudian membawa Sio ke kamar dan berkata ke seseorang dalam telepon, yang kemungkinan adalah teman majikannya.

“Halo Dini, Alhamdulillah jam bekerku udah ketemu. Aku panik banget tadi, aku kira jam bekerku hilang entah kemana. Kan kamu tau jam beker ini sangat berharga bagiku. Ini adalah hadiah terakhir dari Kakek sebelum dia meninggal, jam beker ini yang selalu nyelametin aku ketika aku molor dan hampir telat ke sekolah.”

“Ya udah sana disimpen, makanya kalo barang hilang itu dicarinya pelan-pelan jangan langsung panik, siapa tahu kamu lupa naruh”. Kata Dini di seberang telpon sana.

“Okey siap Dini, ini aku mau bersihin dulu jamnya, kelihatan kotor banget kaya habis kena kotoran dari luar. Padahalkan aku naruhnya di atas lemari. Semoga nanti kalau sahur, aku nggak telat lagi kaya biasanya. Udah dulu ya, byee.”

Mendengar percakapan tadi, Sio akhirnya lega dan tenang. Ia juga mengerti kenapa ia sangat berharga bagi pemiliknya. Sejak saat itu Sio bertekad untuk berada di sisi majikannya selamanya, agar majikannya selalu ingat dan menghargai setiap detik waktu yang telah dilewatinya.

Tamat….

Artikulli paraprakKeutamaan Bulan Ramadan
Artikulli tjetërHilangnya Pahala Puasa Ramadan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini