Beranda Cerpen Cerpen: Mudik

Cerpen: Mudik

537
0

Kling…! (Suara notifikasi group WA)

“Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Menginfokan, diberitahukan kepada seluruh santri, bahwasanya besok sudah mulai liburan Ramadan, selamat berlibur dan selamat bertemu dengan orang-orang tersayang, dan luapkan kerinduaan kalian.

Sekian terimakasih,  Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh”.  Isi dari pesan.

“Apalah artinya rindu kalau tak ada dalam Qalbu”. Ucap Fadil teman sekamarku, ketika membaca pesan itu.

“Bisa aja kamu dil”.  Ucapku

“Kang Fuad, kamu besok pulang gak”

“Ya pulang to”

“Ke Surabaya?”

Ho oh

“Wah, salam yo buat arek-arek Suroboyo

“Siaaap!”

Hari yang ditungggu para santri telah tiba, khususnya bagi para perantau sepertiku, yang mana lama tak berjumpa dengan keluarga sahabat di kampung halaman. Kesempatan seperti inilah yang dinanti nantikan, bisa berkumpul dan merayakan lebaran bersama keluarga.

“Eh Dil, besok antar aku ke terminal ya”

“Iya kang, tapi agak siangan ya, aku mau menggapai mimpi-mimpiku dulu, di alam mimpi, hehehe”.

“Oke lah, semoga sukses”

Kesokan harinya sekitar pukul 10.00 WIB aku bersama Fadil menuju ke terminal.

Setelah sampai di terminal kami menunggu bus yang akan kutumpangi.

“Makasih ya Dil”

“Iya kang, hati-hati ya Kang”. “Awas ada copet” lanjutnya dengan suara pelan.

“Aman siap”.

Dan akhirnya bus yang aku tunggu datang.

“Yaudah Dil aku berangakat ya”. Ucapku sambil berjalan menaiki bus.

“Iya Kang hati-hati”.

“O iya Kang jangan lupa, salam satu nyali arek-arek Suroboyo”. “Hati-hati Kang !!!” teriaknya sambil memandangi bus yang kutumpangi melaju, aku hanya memberikan hormat padanya dari balik jendela.

Di dalam bus aku hanya duduk terdiam sambil menggunakan handset mendengarkan Sholawatan hitung-hitung menambah pahala di bulan puasa ini. Namun perasaanku ada yang kurang, aku cari-cari dan aku ingat-ingat. Ternyata aku lupa membawa bekal untuk berbuka puasa, entah itu makanan atau minuman. Karena saking terburu-burunya tadi, nggak tahu dengan apa nanti aku membatalkan puasa, sedangkan perjalan antara Salatiga ke Surabaya cukup lama, Sekitar 10 sampai 11 jam. Biasanya bus transit di beberapa terminal, pada saat itu aku berencana membeli sesuatu untuk berbuka.

Badan semakin lemas dan ngantuk, ingin rasanya tidur sebentar. Kupejamkan mataku namun tak kunjung bisa, sampai pada akhirnya aku melihat sesuatu, yaitu seorang penumpang yang baru naik bus. Seorang ibu-ibu cukup tua membawa tas koper dan barang-barang lainnya. Ibu itu berjalan tertatih ke arahku mencari tempat duduk, namun kondisi bus sudah penuh tidak ada kursi kosong lagi.

Setelah kuamati rupanya ibu itu bukan seorang muslim melainkan non muslim, terlihat dari jaket yang ia kenakan. Di situ tertulis sebuah instansi komunitas non muslim, namun membantu dalam hal kebaikan tidak pandang bulu.

“Bu Silahkan duduk di sini”. Sambil beranjak berdiri aku persilahkan ibu itu untuk duduk di kursiku.

“Terima kasih banyak Mas”

” Iya Bu sama-sama “.

Aku melanjutkan perjalanan dengan berdiri di dalam bus, meskipun perjalanan masih panjang.

Setelah beberapa lama kemudian, penumpang yang duduk di sebelah Ibu tadi sudah sampai tujuannya, dia turun dan kursi di sebelah ibu itu kosong. “Mas duduk mas” ibu itu menyuruhku duduk di sebelahnya.

 Aku pun duduk di sebelah ibu itu, dan kita berbincang-bincang.

“Masnya dari mana mau ke mana?”

“Saya tadi dari Salatiga mau pulang ke Surabaya bu”

“Oh masnya di Salatiga kerja atau kuliah?”

“Ya Bu saya di Salatiga kuliah”

“Sudah berapa lama Mas di Salatiga?”

“Sudah cukup lama Bu sekitar 2 tahun”

“Wah sudah lama ya. Iya mas mumpung masih mudah, cari pengalaman yang banyak”

“ Iya Bu”

“Ini Mas ayo di makan” ibu itu menawarkan roti kepadaku.

“Mohon maaf bu, saya lagi puasa”

“Oh iya ya orang Islam kan sekarang lagi ibadah puasa ya, maaf ya Mas”

“Iya Bu enggak apa-apa”. Seketika ibu itu langsung memasukkan rotinya ke dalam tas.

“Nggak papa Bu silakan di lanjut makannya”

“Tidak Mas, tidak baik, kita harus saling menghargai, bukannya begitu ya Mas? “

Aku hanya menganggukkan kepala, dan terdiam.

Setelah itu kita saling terdiam, dan aku pun tertidur karena sudah tak tahan lagi akan rasa ngantuk dan lemas.

Tidurku cukup lama, bangun-bangun hari sudah mulai gelap.

“ Bu, busnya tadi sudah berhenti di berapa terminal ya” tanyaku.

“Sudah, tadi di terminal Madiun”

“Waduh”

“Kenapa Mas? Tujuannya kelewatan ya?”

“Enggak kok Bu, cuma saya tadi mau beli sesuatu buat buka puasa, soalnya saya tadi kelupaan nggak bawa bekal apa-apa”

“Oalah, ya udah ini Ibu ada sedikit camilan, makan saja gak apa-apa, ini sekalian minumnya”.

“Enggak Bu makasih, buat ibu saja”.

“Udah ambil aja gak papa, Mas nya dari pagi tadi belum makan apa apa to”.

“Iya bu, tidak terima kasih banyak”

“Apa gak boleh ya kalau buka puasa dengan makanan yang dikasih dari agama lain?”

“Tidak bu bukan begitu, cuma saya enggak enak saja sama Ibu”.

“Alah tinggal makan saja kok gak enak segala. Ayo dimakan”.

“He he he Iya Bu, terimakasih banyak”.

“Lain kali kalau mau bepergian jauh, dipersiapkan baik-baik jangan sampai ada yang kelupaan atau ketinggalan, apalagi pas puasa gini, jangan sampai lupa bawa bekal untuk buka puasa”

“Iya Bu Terima kasih atas sarannya”.

Artikulli paraprakPuisi: Kemuliaan
Artikulli tjetërDua Santri RUQ Al Falah Raih Juara MHQ

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini