Beranda Cerpen Dialah, Aisya.. (Cerpen)

Dialah, Aisya.. (Cerpen)

922
0
Dialah, Aisya

Di suatu malam yang kelam, bertabur bintang berhiaskan rembulan… Dalam kesunyian di sepertiga malam. Ketika doa-doa melambung tinggi mengetuk pintu-pintu langit ke tujuh, saat ayam-ayam bersahutan membangunkan setiap insan yang terbuai dalam bunga impian.

Di sudut aula putri…

“Ssst… Aisya… hei,..” panggilnya lirih hampir tak bersuara. Yang dipanggil masih khusyuk dengan lantunan doanya. 

“Ayo.. kita sahur, keburu imsak entar,..” rayu gadis tambun yang bernama Bella sambil melangkah pelan menuju aula mendekati Aisya.

Demi  mendengar perkataan sahabatnya, Aisya menyudahi ritualnya malam itu dengan mengatupkan kedua telapak tangannya ke wajah. Seandainya engkau melihat paras itu, mungkin kau akan menyangka seakan ada rembulan yang jatuh malam itu di sana, yang serpihan cahayanya membekas pada paras teduh Aisya.

Ya, namanya Aisya Al Khumaira, gadis Jawa keturunan Saudi Arabia itu tersenyum simpul menatap sahabatnya.

Hal anti lafar jiddan? Hhhi…” selorohnya.

Bella memutar bola matanya jenaka. Yah, meskipun dalam diri Aisya masih mengalir darah Arab, namun Aisya tak begitu fasih dan paham benar dalam berbahasa Arab. Bella mengerti, bahwa sahabat cantiknya itu memang begitu mencintai bahasa Al Qur’an, yang kelak akan menjadi alasan baginya memilih untuk mendalami studi Bahasa Arab itu di perguruan tinggi.

“Hhhhi… iya, iya,.. nona cantik,” hayya bina nadzhabu ila ghurfatun naum,” balas Aisya tersenyum.

“Berhentilah memanggilku seperti itu Aisy, sudah terlalu sering kamu berlaku tak jujur tahu! Semua santri di pondok ini tahu, bahkan semua penghuninya baik yang terlihat maupun kasat mata pun selamanya akan mengatakan, bahwa tak ada perempuan gendut yang cantik…” celetuk Bella sambil memanyunkan bibirnya.

“Hhhe.. Bella,… Bella…  memangnya aku salah bicara, kelihatannya enggak. Bukankah setiap wanita, Allah ciptakan dengan fitrahnya sebagai makhluk yang cantik..?  Hmmm, mau aku panggil kamu,…  Bella yang ganteng gitu?” terangnya cekikian sambil sibuk melipat mukena.

“Eh.. eh… nggak lah, apa pula enaknya jadi laki-laki. Tanggung jawabnya besar Sya, seperti Gus Ayyas itu… harus meninggalkan keluarga yang dicintainya demi menjadi orang asing di tanah kelahiran ibumu .. kasihan..”

“Kok kasihan sih Bel? Gus Ayyas ke Timur Tengah  juga untuk menuntut ilmu. Sebagai satu-satunya putra Kyai Manshur yang kelak akan menggantikan posisi Abahnya memimpin pondok ini, sudah sepantasnya ia berbekal ilmu yang melimpah..”

“Termasuk bekal untuk menjadi pemimpin bagi keluarga kecilmu kelak ya, Sya? goda Bella.

Gerakan tangan Aisya yang tengah melipat mukena, terhenti… Ia menatap sahabatnya dengan penuh tanya, “Maksudmu apa Bell?”

“Ah,.. udah ah.. diskusi mulu kapan kita sahurnya. Cacing-cacing di perutku meronta-ronta minta asupan nih,” berkata sambil melenggang  pergi menuju ruang makan, meninggalkan Aisya yang terduduk di lantai aula, sambil mengernyitkan dahi.

Apakah Bella sudah tahu kejadian kemarin sore itu, bagimana bisa? Bukankah saat itu tak terlihat  batang hidungnya di sana?. Ah.. mungkin itu hanya sekedar candaan belaka. Bukankah tak jarang santri putri membicarakan hingga kesana kemari perihal Putra Abah Yainya itu dalam perkumpulan di sudut-sudut kamar?. Batinnya sempat berkecamuk membenarkan manakah persepsi yang harus ia percayai?

***

Kamis, 05.30 WIB

Semburat mentari menyibak kabut pagi, mengintip di celah-celah ranting. Dedaunan pun tertiup semilir angin. Selembar kuningnya melambai pelan, melayang sebentar meliung-liung sebelum akhirnya jatuh mencium tanah, pertanda musim kemarau yang panjang akan tiba…

Pagi itu, seperti pagi–pagi di Kamis yang lain. Makam Kalimosodo riuh oleh suara para santri membaca tahlil. Mendoa dengan khusyu’ kepada Sang Pencipta.. dan menjadi semakin ramai lagi ketika ritual Kamisan diakhiri.

“Duh, mana ya.. ih geser dikit dong!” seru salah seorang santri putri.

“Kamu tuh yang harus geser, nggak lihat apa kakiku kamu injak. Lihat juga tuh, sandalku juga kamu injak sampai kotor gitu..” keluh santri lain sambil meringis mengelus-elus kakinya.

“Hhhi.. maaf maaf, nggak lihat,” balas santri itu yang tak lain adalah Sabilla ‘Ayun, satu-satunya gadis bertubuh tambun di PPTN.

Kamis pagi, ba’da subuh adalah jadwal rutinan santri PPTN dan PPTR  membaca tahlil untuk mendoakan para ahli qubur di pemakaman umum Kalimosodo. PPTN (Pondok Pesantren Tarbiyatun Nisa) adalah  Pondok tempat  mengaji khusus santri putri. Sedangkan PPTR (Pondok Pesantren Tarbiyatul Rijal) adalah pondok khusus mengaji santri putra. Pengasuh  pondok itu adalah kedua putra Kiyai Manshur, Gus Ilham dan Gus Yusuf. Sebenarnya Abah memiliki 4 orang anak, putra sulung Abah, Gus Ilham dan Gus Yusuf telah menikah. Sedangkan Gus Ayyas masih duduk di bangku kelas tiga SLTA yang sebentar lagi akan terbang ke negeri Timur Tengah untuk memenuhi panggilan beasiswa kuliah di sana. Sementara Ning Hilma, putri bungsu Abah masih duduk di bangku kelas dua SMP.

Letak pemakaman Kalimosodo yang berada  diluar arena pondok, mengharuskan para santri berjalan sekitar 20 meter menuju pemukiman penduduk. Saat-saat seperti itulah yang begitu ditunggu para santri demi menghirup udara pagi yang sejuk dan sarat akan aroma kebebasan.

Belajar di pondok bagi kebanyakan orang memang seperti hidup di penjara, serasa terkukung dan terasingkan dari peradaban. Padahal tidak selalu benar demikian. Pondok Pesantren adalah tempat menempa kedewasaan, tempat menciptakan pemuda pemudi bangsa yang berpendirian dan berkarakter serta  akhlak mulia mereka yang bernafaskan Islam.  Pondok Pesantren adalah miniatur masyarakat. Ada berbagai pola dan karakter setiap orang yang tak serupa di dalamnya. Bertemu dan berkomunikasi dengan kawan-kawan yang berlainan watak tentu membuat kita semakin paham bagaimana memperlakukan dan berhubungan baik dengan mereka.  Menuntut kita belajar mandiri dan lebih dewasa ketika kita dihadapkan oleh berbagi masalah, sedang tak ada keluarga yang mampu membantu di sisi kita.

Para santri bagaikan satu tubuh, satu keluarga yang saling memahami satu sama lain. Makan bareng, tidur bareng, belajar bareng, mencuci bareng, ta’ziran bareng, menyelesaikan pekerjaan bareng-bareng membuat rasa saling memiliki itu semakin besar. Ada banyak hikmah kehidupan yang tak pernah dirasakan oleh mereka yang tak pernah menjadi santri. Sehingga tak ayal, saat makhluk-makhluk keramat itu harus pulang kembali ke masyarakat, mereka akan dicap sebagai manusia yang serba bisa. Menjadi pemimpin, pendidik, ustaz atau apapun itu, para santri  selalu diandalkan oleh masyarakat.

***

“Sya… ayo pulang, kok malah bengong,” ucap seorang sambil mengibas-ngibaskan telapak tangannya di depan wajah perpaduan Asia-Timur Tengah itu. Hidung yang mancung berbalut kulit putih langsat, dengan berhiaskan dua permata bening nan lentik dan bibir yang minimalis membuat Aisya semakin terlihat anggun, bersama balutan kerudung biru muda yang melingkupi kepalanya.

“Eh,.. iya Nin. Sebentar aku lagi nunggu mereka selesai dulu. Kamu duluan aja nggak papa kok,” balasnya.

“Nunggu apa, nunggu temen-temen selesai cari sandal?”

“Iya, Nin. Sandalku belum ketemu”.

“Ih, Aisy.. gimana mau temu coba kalau kamu hanya berdiri sambil bengong disini tanpa usaha. Sandalmu warna apa, sini aku coba bantu cari,” ucapnya sambil membungkukkan badan sibuk mencari sesuatu di tengah kerumunan santri putri.

“Nina.. nggak perlu gitu ah. Sini..“ Aisya menarik tubuh Nina menjauh dari keramaian.

Acara tahillan rutinan memang sudah selesai. Namun, suasana malah semakin gaduh ketika para santri mencari sandal mereka yang saling terhimpit satu sama lain. Tak ada yang mau mengalah, saling dorong dan senggol di tekan oleh keinginan untuk segera pulang ke pondok lalu menuju ruang makan. Ya, bukankah santri juga manusia? Diluar kebiasaan mereka tirakat puasa, namun suasana pagi yang berkabut sedingin itu mampu merangsang perut mereka yang lapar segera minta isi. Kalian tahu teman, PPTN Al Falah terletak di tengah-tengah pemukiman penduduk Desa Grogol, Salatiga. Di bawah kaki Gunung Merbabu yang selalu diliputi kabut kelabu.

“Aku sengaja kok, mau pulang akhir bareng Bella, ya kan Bel?” rajuk Aisya sambil menyikut lengan Bella yang tengah menepi dari kerumunan, mencoba mengatur napasnya yang terengah-engah setelah sibuk mencari sandal.

“Ha.. aku?!. Sejak kapan kita janjian buat pulang paling akhir?” ucapnya heran terseol-seol.

“Sssst… diem dulu Bella sayang.. hhhi tarik nafas pelan-pelan, nanti aku jelasin, okey?” lirih Aisya sambil meletakkan jari telunjuknya di depan bibir, kemudian tersenyum simpul.

“Ya udah deh. Aku pulang duluan ya teman-teman, assalamu’alaikum..” ucap Nina sambil melenggang pergi.

“Wa’alaikumsalam” balas keduanya bebarengan.

“Maksudmu apa sih, ngajak aku pulang paling akhir. Ayo ah, pulang sekarang. Nanti keburu sarapannya habis..” Bella menarik tangan Aisya.

“Eh,.. eh tunggu, kamu tuh pikirannya makan mulu… Lihat nih, .” Aisya mengarahkan pandangannya ke bawah, yang kemudian diikuti Bella menatap ke telapak kaki Aisya dengan terheran-heran. “Astaghfirullah!… sandalmu mana Neng Ayu? Kenapa nggak dicari dari tadi sih, tuh kan jadinya keburu di ghosob ama yang lain,” komen Bella kesal  menyilangkan kedua lengannya, memasang wajah cemberut.

“Kok jadi aku yang salah sih, seharusnya kamu nyalahin yang mencuri sandalku dong. Bukan miliknya tapi kok diambil,” bela Aisya cuek.

“Bukan nyuri Sya, mungkin hanya di ghosob santri  lain. Ayo ah pulang, paling nanti juga ketemu lagi di pondok.”

“Apa bedanya mencuri sama ghosob Bel, sama-sama mengambil barang tanpa seizin yang punya, ditambah lagi merugikan orang lain kan?”

“Beda lah, Aisya Al Khumaira Binti Abdullah. Kalau mencuri itu ngambil nggak dikembaliin. Tapi kalau ghosob itu ngambil seperlunya tanpa permisi, entar juga ketemu. Kamu nya juga sih, ngasih peluang…” ucapnya gemas.

Pelataran Pemakaman Kalimosodo mulai lengang, tinggal Aisya dan Bella dengan beberapa santri putra yang memilih duduk berleha di pelataran Masjid Kalimosodo. Pemakaman umum itu memang terletak di belakang masjid agung desa. Di beri nama Kalimosodo, sebagai tanda jasa untuk mengenang nama Pahlawan agama yang dulu mengenalkan Islam kepada masyarakat Desa Grogol ini.

“Ngasih peluang gimana maksudmu?” tanya Aisya.

“Ah, udah lah.. kayak enggak pernah jadi korban penggoshoban aja. Udah berapa lama kamu nyantri di sini sih, Sya?.. Kalau kamu tadi sempet nyari sandalmu atau paling tidak memerhatikan teman-teman yang sedang memakai sandal, mungkin sandalmu nggak akan di ghosob, itu kan juga membuka peluang namanya,… Nyonya Cantik,” ucapnya tambah sebal.

“Iya.. iya.. Bella yang imut, aku juga tahu ghosob itu apa, perbuatan tercela yang sudah menjadi tradisi buruk dikalangan para santri kan?. Meskipun hal sepele, tapi itu merugikan orang lain dan berdosa..” terangnya.

“Nah itu, kamu tahu. Nggih.. nggih Bu Nyai sendiko dawuh, ngapuntene kulo ingkang klintu. Sumonggo kulo aturi wangsul riyen keranten  sampun wekdale sarapan Nyai..” goda Bella jenaka sambil menirukan tata bahasa  seorang santri ketika berbicara dengan Bu Nyainya.

“Bella… Ih…kamu… awas ya?!” teriak Aisya gemas sambil mencubiti sahabatnya.

Bella mencoba menghindar, menangkis gerakan tangan Aisya. “Ampun.. ampun,.. Sya.. geli.. Hhihii.. Eh, eh.. sebentar bukannya itu sandalmu, Sya?” pandangan keduanya tertuju kepada sepasang sandal yang sebagian tertutup semak belukar. Warnanya yang tadinya putih, kini berpadu dengan warna coklat di sana-sini. “Ih,.. kotor banget!” pekik Aisya.

“Beruntung nggak jadi ilang. Udah ah, cepet di pakai lalu kita pulang..” keluh Bella sambil mengelus perutnya yang semakin terasa lapar.

Diambilnya sandal yang kumuh itu, Aisya pun memakainya sambil berjinjit-jinjit. Kedua sahabat karib itu akhirnya melangkah pulang ke asrama, namun di depan gerbang pemakaman…

“Bel, lihat tuh ada adek kecil nangis sendirian, kenapa ya?” tunjuk Aisy

“Sssst… mana ada sendiri, tuh lihat disampingnya ada Gus Ayyas,” lirih Bella.

“Sedang apa ya mereka, yuk kita samperin..” Aisya menarik Bella, berjalan mendekati gadis kecil itu. Bella tak bisa mengelak. Dia hanya membayangkan nasib sarapan paginya ini kali ini hanyalah angin lalu.

***

“Assalamu’alaikum,..” ucap Aisya.

“Wa’alaikumsalam,” balas Gus Ayyas. Ia menoleh kemudian mengernyitkan dahinya ketika melihat sosok Aisya berdiri di depannya. Bukankah ia santri putri kemarin sore itu?

***

Brrukkk…!”

“Aww.. Maaf nggak sengaja..” serunya tertahan. Tangannya yang lembut begitu tergesa mengambil kitab kuning miliknya yang sempat jatuh mencium lantai.

“Aku yang seharusnya minta maaf, tadi keburu-buru..” ucapnya sambil mengatupkan kedua telapak tangannya di dada. Mata elangnya menyipit menampakan ekspresi permohonan.”Maaf…” ulangnya.

“Eh… aduh,.. Gus Ayyas, sepuntene Gus. Kulo mboten ngertos yen jenengan,” ucap santri berkerudung merah muda itu penuh malu. Kedua matanya sempat beradu namun kemudian menunduk kembali lebih dalam.

“Nggak usah panggil aku Gus,..” balasnya. “Aku di sini juga belajar dan mengaji seperti kamu dan teman-teman, panggil aku sebagaimana kamu memanggil kang-kang pondok yang lain.”

Nggeh Gus,… eh maaf, Kang maksudnya.” Bibir Aisya terasa kelu jikalau harus memanggil putra Abah Yainya itu dengan sebutan Kang. Di pondok pesantren ketika memanggil teman sebaya atau setingkat diatasnya biasa dengan panggilan Kang dan Mbak,. Namun lain halnya ketika panggilan itu ditujukan kepada putra dan putri Pak Yai yang biasa dipanggil Gus atau Ning. Itu merupakan sebuah bentuk penghormatan dan pengagungan seorang santri kepada Pak Yai dan keluarga besar beliau, termasuk anak-anak beliau.

Begitulah Indonesia dengan beragam adat istiadat dan tradisi yang penuh akan keramahtamahan. Tradisi baik yang menelusup hingga ke berbagai aspek kehidupan, termasuk bidang pendidikan, yang perlu di jaga kelestariannya sebagai salah satu kebanggan bangsa ini.

“Iya .. iya, sebenarnya yang salah itu aku Aisya, maaf ya, aku tadi buru-buru, eh,.. sepertinya Ustaz Wildan sudah masuk kelas. Duluan ya, assalamu’alaikum…” ucap Ayyas undur diri.

Kedua bola mata Aisya membulat, Ha? Aisya, dia panggil aku Aisya? Bagaimana bisa ia tahu namaku diantara sekian banyaknya santri putri di pondok ini? terlukis pelangi di bibir kecilnya.

“Kamu kenapa Dek, kok nangis?” tanya Aisya.

Adik kecil itu terus saja menangis tak menjawab pertanyaan Aisya kepadanya.

“Dia santri baru, baru kali ini ikut tahlilan rutinan, namun sudah beberapa kali kehilangan sandal,” terang Gus Ayyas.

“Oh, kenapa harus nangis.. pakai sandal kakak aja ya pulangya.. Nggak usah nangis gitu,.. nih..” ucap Aisya sambil melepas sepasang sandalnya .

Santri kecil itu menatap ke bawah sebentar, kemudian menggeleng tanda tak mau. Gus Ayyas yang berdiri tak jauh dari Aisya hanya memandang sandal kumuh itu sekilas, kemudian tersenyum geli. Dasar, Aisy… Aisy.. Mana mungkin adik kecil itu mau pakai sandal sebesar itu, kotor pula.. batinnya menahan tawa.

“Namanya Arini, katanya dia hanya takut kalau nanti dimarahi ibunya jika harus berulang kali minta dibelikan sandal, karena sandalnya terus-terusan hilang,” terang Gus Ayyas.

Diam-diam tanpa sepengetahuan Aisya, Ayyas memandangnya yang tengah sibuk merayu santri kecil itu pulang ke pondok. Ada sesuatu yang menyelusup dalam lubuk hatinya. Entah apa namanya, Ayyas pun tak mampu mendefinisikannya.

***

Seekor kupu terbang rendah tinggi merendah, mengepakkan sayapnya penuh irama. Berhenti dari satu kelopak ke kelopak yang lain. Berharap suatu saat kuncupnya kan merekah sempurna…

“Teman-teman yang aku sayangi,  bukankah kalian pernah mendengar kisah seorang pemuda yang berjalan menyusuri sepanjang hulu sungai, demi mencari siapa gerangan pemilik sebuah delima yang sempat dimakannya karena beratnya rasa lapar?” serunya lantang di depan mimbar.

Para santri hanya diam mengangguk.

“Ya, meskipun sebenarnya buah delima itu telah terjatuh dari tangkainya kemudian hanyut bersama aliran sungai, namun pemuda itu tetap berusaha menemui sang pemilik guna menghalalkan status makanan yang dimakannya. Mengapa demikian? Karena dalam Islam, makanan yang halal adalah makanan yang berkah. Kalian ingat, bagaimana Ustaz Kholil menerangkan salah satu bab dalam kitab Ta’lim Muta’alim?  bahwa halal atau haram makanan yang dimakan seseorang tentu akan mempengaruhi daya ingat dan daya tangkapnya dalam belajar.”

“Lalu, apa hubungan antara kisah itu dengan tema kultumnya Mbak Aisya malam ini?” celetuk seorang santri kecil memecah keheningan di aula utama, malam itu. Semua pasang mata tertuju kepadanya, seakan mereka ingin berkata, hal itu yang sebenarnya juga ingin kutanyakan.

“Pertanyaan yang cerdas, Dek”. Aisya tersenyum mendengarnya “Teman- teman santri yang aku cintai,” lanjutnya, “tadi sore salah seorang teman putri kita, tiba-tiba sowan ke Ibu Nyai bersama kedua orang tuanya ingin pulang ke rumah dan menuntaskan belajarnya bersama kita yang sebenarnya baru beberapa minggu disini. Kalian tahu, apa alasannya?” Semua kepala menggeleng tanda tak tahu.

“Santri kecil itu awalnya senang mengaji di sini bersama kita, bahkan cita-citanya sungguh mulia yaitu ingin menjadi ustazah. Namun, yang membuatnya memilih boyong karena setiap minggu selalu saja ada barang miliknya hilang. Mulai dari ember, baju, kerudung, sandal, sabun, dsb.” Aisya berhenti sebentar, menarik nafas lebih dalam lalu melanjutkan ceritanya, “ia masih terlalu kecil untuk mampu membiayai kebutuhan pribadinya, Arini tak ingin merepotkan dan membuat susah kedua orang tuanya yang bekerja keras di rumah, hanya demi membelikan sepasang sandalnya yang hilang hampir setiap minggunya, atau membelikan ember kecilnya yang pecah setelah sempat menghilang beberapa pekan.”

“Kawan, ghoshob memang hal yang biasa dikalangan santri, namun bukan berarti ia menjadi tradisi buruk yang biasa dan boleh ada. Apa  bedanya ghoshob dengan mencuri, bukankah itu sama-sama merugikan orang lain?” 

***

Kairo, Mesir

Jumat, 20 April 2018

Di sudut kamar A5, pemuda itu terus mengulang rekaman khutbah sekitar dua tahun yang lalu. Tak pernah bosan mendengarkan demi mengobati kerinduan yang terkadang terus menerjang. Kamar minimalis ala anak kuliah dirasa cukup jika hanya untuk tempat belajar dan melepas lelah. Tak banyak memang barang yang tertata disana, hanya saja kini di atas meja belajar kayu itu tengah tergeletak berlembar-lembar amplop dan kertas dengan beratuskan untaian kata. Sengaja dibiarkan seperti itu. Entah sudah berapa kali kalimat itu dibacanya. Menunggu dua tahun dirasa menanti dua abad baginya.

“Aisya, kau selalu hadir dalam setiap desah nafasku, mengusik ketenangan hidupku,” dia diam sebentar, mendesah lalu kembali bergumam, “aku tak pernah menyalahkanmu, sebab hadirmu dalam hidupku telah menyalakan api semangat untukku, hanya saja semoga penantianmu selama 2 tahun takkan pernah menjadikanmu lelah atau bahkan berbalik arah,” matanya menerawang ke langit-langit kamar. Berharap ada jawaban yang mampu memberinya ketenangan.

Angin semilir berhembus lembut menerbangkan jilbabnya. Melambai-lambai, bersama daun-daun kering di musim kemarau berterbangan dari satu atap ke atap asrama lain. Angin yang terlalu tenang untuk mampu membangunkan setiap insan dari lelapnya tidur siang.

Di usapnya kedua tangan ke wajah. Aisya telah selesai mendoa. Namun, bulir bening tak hentinya menetes dari sudut mata beningnya. Antara bahagia dan duka. Duka, untuk sebuah kerinduan yang tak mampu tersampaikan, bagi seorang di negeri nan jauh di sana. Dan bahagia untuk sebuah keadaan yang menggembirakan.

Semenjak berdirinya Aisya di depan mimbar malam itu, kini tak ada lagi kisah santri yang memilih boyong atau keluar dari pondok. Rekaman khutbah Aisya yang sering diputar ulang oleh Ayyas di kamar kostnya itu, mampu membuka pandangan para santri untuk meninggalkan tradisi buruk ghoshob di kalangan santri. Akhirnya, pondok putra-putri yang didirikan Abah Yainya itu kini semakin menjadi kepercayaan warga sekitar dan mendapat julukan pondok yang terbaik di daerahnya.  

Ayyas kini tengah menempuh beasiswa S1 nya di Al Azhar, Kairo. Sementara Aisya, menunggu dalam penantian dengan mengabdi di pondok pesantren calon suaminya itu. Ya,  sebenarnya sudah sejak lama Ayyas memendam rasa kepada gadis Asia-Timur Tengah itu. Tak hanya paras rupa yang membuatnya terpesona. Namun, lebih dari itu. Aisya memiliki kecantikan hati yang tak kebanyakan orang miliki. Bagaimana tidak, bagi Ayyas, Aisya adalah gadis yang istimewa. Perangainya lembut, namun tegas dan lantang dalam membela kebenaran. Di saat setiap santri mengatakan ghoshob adalah tradisi biasa di kalangan anak pesantren, namun tidak bagi Aisya. Memakai barang seseorang tanpa izin adalah tradisi buruk yang baginya tak patut dijaga kelestariannya. Ya, karena dialah Aisya…

Biodataku

Assalamu’alaikum wr.wb

Perkenalkan, namaku Aisah. Biasa dipanggil Ais. Aku adalah putri dari pasutri, Abdul Rokhim dan Umaroh. Aku lahir di Kendal, 6 Juli 1998.  Kini, aku tengah menempuh pendidikan S1 ku di IAIN Salatiga. Aku memilih untuk mengambil jurusan Pendidikan Bahasa Arab, karena aku suka Bahasa Arab.

Hobiku membaca dan menulis. Cita-citaku adalah menjadi penulis legendaris seperti Kang Abik (Habibburrahman El Shirazy), Pipiet Senja, Andrea Hirata, Tere Liye. Memberikan pesan hikmah kepada para pembaca karyaku. Selain itu, aku juga berkeinginan untuk mendirikan sebuah perpustakaan untuk umum. Khususnya perpustakaan bagi anak-anak. Melihat mirisnya keadaan anak-anak zaman sekarang yang lebih suka main android dan gadget daripada meneguk manisnya ilmu lewat membaca buku. Perpustakaan umum, sebagai wujud peduliku kepada pendidikan dan nasib generasi muda bangsa ini. 

Aku adalah seperti halnya anak-anak lain, yang tentunya ingin membahagiakan dan membuat bangga kedua orang tuaku. Cita-citaku yang lain adalah ingin memberangkatkan haji kedua orang tuaku ke Baitullah. Menabung adalah salah satu bentuk ikhtiarku kepada Sang Pencipta, dengan diiringi doa tentunya.  Mengikuti perlombaan-perlombaan seperti ini, selain sebagai tujuan untuk mengembangkan minat dan bakatku, juga untuk menabung demi biaya memberangkatkan haji kedua orang tuaku.

Artikulli paraprakMemuliakanmu, Dengan Caraku (Puisi)
Artikulli tjetërPidato: Apa Kabarmu Teman Santri ku?

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini