Beranda Berita Pengajian Ahad Pon : Tidak Ada yang Sia-sia

Pengajian Ahad Pon : Tidak Ada yang Sia-sia

550
0
Pengajian Ahad Pon di Masjid Klenteng Salatiag
Pengajian Ahad Pon di Masjid Klenteng Salatiag

pptialfalahsalatiga.com – Ahad (28/03), PPTI Al Falah Salatiga kembali melaksanakan pengajian rutinan selapanan Ahad Pon. Bertempat di Masjid Klenteng, Dukuh, Salatiga, pengajian Ahad Pon kali ini masih seperti pengajian selapanan sebelumnya. Semua santri mengawali acara dengan khotmil Qur’an bersama. Selanjutnya, pembacaan sholawat nabi oleh grup rebana Kidung Lelono senior. Kemudian memasuki acara inti yaitu pengajian tafsir Al Ibriz yang disampaikan oleh K.H. Ma’sum.
Salah satu isi ceramah K.H. Ma’sum dalam pengajian kali ini adalah tentang keistimewaan ayat Al Qur’an yakni surat Al Fatihah yang tidak akan hilang pahalanya dari orang yang memberikannya. Keistimewaan tersebut tetap kita dapatkan, meskipun orang tersebut telah memberikan bacaan Al Fatihahnya kepada orang yang sudah meninggal.


Namun, ada pendapat jika seseorang membaca Al Fatihah untuk orang yang meninggal maka ia telah merugi. Hal ini karena ia sudah menyerahkan pahala yang seharusnya menjadi miliknya kepada orang lain.
Dalam masalah tersebut, K.H. Ma’sum juga memiliki argumen sendiri. Menurut beliau, ketika seorang guru mengajarkan cara membaca surat Al Fatihah kepada muridnya, apakah al fatihah itu akan hilang dari diri guru tersebut? Kita pastilah sudah mengetahui jawabannya.
Dengan menggunakan argumen K.H. Ma’sum tersebut, kita dapat mengetahui bahwa pahala surat al fatihah yang kita berikan kepada orang yang sudah meninggal tidak akan sia-sia, bisa jadi Allah SWT memberikan pahala yang lebih besar karena keikhlasan seorang yang memberikan bacaan Al Fatihahnya.
Mengenai argumen tersebut, K.H. Ma’sum berpesan

“Kabeh perkoro ki ora kudu di delok seko materi.”

Maksudnya jadi orang jangan hanya menganggap segala sesuatu sebagai materi atau keuntungan belaka. Karena, apabila kita selalu menghubungkan semua hal dengan materi, maka dapat mengurangi keikhlasan dalam beribadah kepada Allah SWT.
K.H. Ma’sum mengakhiri pengajian dengan doa. Setelah doa, para santri baik santri mukim maupun kalong disuguhi sarapan dan makan bersama-sama.

Artikulli paraprakBerkah Pandemi, Liko Tegar Khatam 30 Juz
Artikulli tjetërBagindaku, Aku Rindu (Puisi)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini