Beranda Artikel Relasi Makna dalam Sinonim Kata فَرَحَ dan اِسْتَمْتَعَ

Relasi Makna dalam Sinonim Kata فَرَحَ dan اِسْتَمْتَعَ

890
0

Dalam bahasa Arab banyak sekali kosa kata yang berbeda tapi memiliki arti yang sama. Jika ditinjau dalam Ilmu Dilalah, persamaan dua kata yang memiliki arti sama masuk pada materi relasi makna pada cabang yang disebut dengan sinonim. Al-Murodif (sinonim) menurut Kridalaksana (1993) adalah suatu bentuk bahasa yang memiliki makna sama dengan bentuk lain, dalam kesamaan berlaku pada sebuah kata, kelompok kata, atau kalimat.

Sinonim yang akan dibahas dalam tulisan ini, yaitu kesamaan antara dua kosa kata Arab yang artinya sama. Seperti kata faraha dan istamta’a. فرَحَ memiliki arti senang, sama halnya dengan kata اِسْتَمْتَعَ yang memiliki arti senang. Sebelumya, ilmu kata (mufrodat) dalam bidang Arab dikenal sebagai morfem dan ilmu yang mempelajari tentang morfem disebut morfologi. Lalu bagaimana cara membedakan dua morfem itu?

Pada kalimat Mr. Khaled Al-Salman dalam twitternya mengatakan :

لاَ أُرِيْدُ شَيْئًا مِنَ الدُّنْيَا فَأَنَا أَشْعَرُ أَنَّنِي أَخَذْتُ نَصِيْبِي مِنَ الفَرْحِ حِيْنَ أَحْبَبْتُك

Artinya: Aku tidak menginginkan apapun dari dunia, aku merasa seperti aku mengambil kebahagiaanku (kesenangan) ketika aku mencintaimu.

Dan kalimat Thoriq bin Ziad pada khutbahnya ketika penaklukan kota Andalusia berbunyi :

إِنْ صَبَرْتُمْ عَلَى الأَشَقِّ قَلِيْلاً إِسْتَمْتَعْتُمْ بِالأَرْفَةِ الّذِى طَوِيْلاً

Artinya: Jika kamu (sekalian) bersabar atas kesulitan yang sebentar maka kamu akan merasakan kesenangan di waktu yang Panjang.

Relasi Makna Sinonim Kata Faraha dan Istamta’a

Dua kalimat tersebut mengandung dua morfem berbeda yang memiliki satu arti, yaitu kesenangan. Perkataan Mr. Khaled yang sungguh amat senang dunianya ketika mencintai seseorang yang ia cintai, dan nasihat Thoriq bin Ziad untuk bersabar pada kesulitan untuk mendapatkan rasa senang jangka panjang. Lalu, dimana letak perbedaan dalam penggunaan kata faraha dan istamta’a?

Kata faraha merupakan emosional, yakni sikap yang tumbuh pada diri seseorang berupa bahagia (senang). Sedangkan penggunaan kata istamta’a ialah ketika seseorang telah melakukan suatu hal dan ia menikmati sesuatu tersebut serta merasa bahagia (istamta’a) dalam keadaan tersebut.  Pada morfem istamta’a, didalamnya mengandung fariha, berupa emosional yang ia rasakan setelah melakukan hal yang telah dilakukan seseorang hingga membuat orang tersebut bahagia.

Sumber: Siompu, Nurjaliyah Aljah. Relasi Makna Dalam Kajian Semantik Bahasa Arab. Jurnal Prosiding Konferensi Nasional Bahasa Arab, 5 Oktober 2019, hlm. 692-693.

Oleh: Nur Afifah (53040200054)

Artikulli paraprakRutinan Ahad Pon: Perbedaan Islam, Nasrani dan Yahudi
Artikulli tjetërUrgensi Pembelajaran Qawa’id Al-I’lal dalam Meningkatkan Kemampuan Membaca Kitab Kuning Santri PPTI Al Falah Salatiga

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini